Logo Header Antaranews Kepri

Gunung Marapi : Antara ancaman & anugerah

Kamis, 5 Maret 2026 15:09 WIB
Image Print
Ilustrasi. Letusan Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (5/2/2026) pukul 22.25 WIB. ANTARA/Handout/am.

Jakarta (ANTARA) - Sejak 3 Desember 2023 hingga 3 Maret 2026, Gunung Marapi di Sumatera Barat terus menunjukkan aktivitas vulkanisnya. Gunung ini tidak pernah benar-benar diam.

Berdasarkan laporan resmi dari MAGMA ESDM, dalam kurun lebih dari dua tahun itu terjadi 528 kali erupsi. Sebanyak 524 di antaranya tergolong kecil (VEI 1) dan 4 kali sedikit lebih kuat (VEI 2). Secara ilmiah, letusan ini tergolong kecil. Namun karena terjadi berulang, Marapi seolah memilih melepaskan energinya sedikit demi sedikit.

Di luar erupsi tersebut, tercatat pula 8.904 kali hembusan, berupa pelepasan gas dan abu dalam intensitas lebih rendah. Hembusan ini mungkin tidak selalu disertai dentuman besar, tetapi ia menandakan bahwa dapur magma di kedalaman tetap aktif. Marapi seperti bernapas panjang; mengeluarkan uap, gas, dan abu secara perlahan, mengingatkan kita bahwa bumi di bawah kaki kita selalu bergerak.

Bayangkan saja, hampir setiap hari ada aktivitas yang terekam. Dalam sekitar 27 bulan, rata-rata terjadi hampir 20 erupsi per bulan. Artinya, aktivitas Marapi bukan peristiwa sesekali, melainkan pola yang konsisten.

Bagi warga sekitar, ini bukan sekadar angka. Kadang tercium bau belerang hingga ke Kubang Putih dan bahkan ke Kota Padang Panjang. Abu tipis bisa turun pelan, menempel di atap rumah, daun tanaman, dan jalanan.

Ancaman dan anugerah

Gunung api selalu membawa paradoks: ia merusak sekaligus menyuburkan. Abu vulkanis dalam jangka panjang memperkaya tanah dengan unsur hara penting yang dikandungnya. Namun proses itu membutuhkan waktu. Pada fase aktif, keselamatan dan mitigasi tetap menjadi prioritas.

Abu vulkanis memang bisa mengganggu pertanian dalam jangka pendek. Daun tertutup abu, proses fotosintesis terganggu. Tapi dalam jangka panjang, abu itu justru memperkaya tanah.

Material yang dikeluarkan Marapi mengandung unsur hara penting seperti kalsium, kalium, magnesium, sulfur, dan fosfat. Dalam hitungan waktu bertahun-tahun hingga puluhan tahun, abu ini akan melapuk dan berubah menjadi tanah vulkanis yang sangat subur.

Dengan densitas abu sekitar 1,5 ton per meter kubik, material yang dikeluarkan Marapi sedikitnya mencapai hampir 14 juta ton, dan pada skenario maksimum dapat mendekati 846 juta ton. Pada skenario minimum saja, terkandung hampir 2 juta ton kalsium, sekitar 600 ribu ton kalium, 69 ribu ton magnesium, hampir 450 ribu ton sulfur, dan lebih dari 400 ribu ton fosfat.

Jika dihitung sebagai potensi teoretis kebutuhan hara per musim tanam, cadangan tersebut setara dengan lebih dari 6,9 juta hektare-musim tanam padi dan sekitar 3 juta hektare-musim untuk jagung atau wortel pada skenario minimum. Tentu tidak seluruhnya langsung tersedia, karena mineral harus mengalami proses pelapukan. Namun dalam jangka panjang, inilah fondasi kesuburan tanah vulkanis.

Gunung tidak dapat dihentikan, tetapi dampaknya dapat dikelola. Aktivitas Marapi selama dua tahun lebih ini memberi pelajaran bahwa yang kita hadapi bukan ledakan sesaat, melainkan persistensi.

*) Prof Dr Dian Fiantis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Marapi: Antara ancaman dan anugerah



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026