Logo Header Antaranews Kepri

Epidemiolog: Cegah virus hanta dengan pengendalian hama tikus

Rabu, 6 Mei 2026 10:59 WIB
Image Print
Ilustrasi - Petani menunjukkan tikus yang menyerang areal sawah. (ANTARA/dok)

Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa strategi utama untuk mencegah penularan virus hanta dari kotoran tikus ke manusia adalah dengan memperketat pengendalian hama tikus di lingkungan tempat tinggal. Langkah ini menjadi sangat krusial terutama saat memasuki musim hujan dan banjir, di mana risiko kontaminasi cenderung meningkat

“Jadi pengendalian tikus itu menjadi core strategi ya, tutup akses tikus ke rumah atau gudang, simpan makanan dalam wadah tertutup, dan juga bersihkan lingkungan yang lembab,” kata Dicky dalam percakapan daring dnegan ANTARA, Rabu.

Dicky mengatakan pada saat hujan dan banjir risiko terjangkit penyakit dari kotoran tikus juga meningkat, selain virus hanta dengan penularan terbatas juga adanya risiko leptospirosis dari urin tikus yang ada di permukaan.

“Jadi gunakan sepatu bot misalnya kalau banjir, juga hindari kontak dengan air kotor apalagi kalau ada luka. Yang juga perlu diperhatikan kalau ada orang yang bertugas atau melakukan bersih-bersih gudang atau ruang tertutup ini harus pakai masker dan cuci tangan rutin,” katanya.

Ia mengatakan saat menyapu area yang kering dan kotor juga perlu jadi perhatian karena debu atau aerosol bisa terhirup manusia. Ia mengatakan sebaiknya menggunakan desinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan, dan menggunakan masker saat membersihkan debu di ruangan tertutup.

Meskipun jarang, penularan virus hanta pada saat banjir dan hujan tetap mungkin terjadi sehingga kewaspadaan menjadi kunci utama mencegah penyakit.

Deteksi dini menjadi sangat krusial dengan pencegahan terbaik yaitu pengendalian tikus, kebersihan lingkungan dan kebersihan diri terutama saat musim hujan ataupun banjir.

Dalam kesempatan yang sama, Dicky Budiman menjelaskan virus hanta bisa menular melalui inhalasi aerosol dari debu urin tikus yang mengering atau air liur tikus yang sakit virus andes yang dapat menyebabkan penyakit sindrom paru.

“Hanta virus pulmonary syndrom ini adalah penyakit zoonosis dari keluarga virus hantavirus. Cara penularan utamanya itu inhalasi aerosol, jadi terhirup dari debu urin yang mengering, feses tikus ataupun air liur tikus yang sakit itu,” kata Dicky.

Ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan ini menjelaskan virus hanta bisa menular pada orang yang kontak dengan urin atau kotoran tikus di permukaan. Namun penyebaran ini tidak terjadi langsung begitu saja, perlu ada strain tertentu seperti virus andes yang bisa secara terbatas menular pada manusia ketika terjadi kontak silang.

Pada orang yang sudah terkontaminasi virus hanta, ada fase klinis awal yang menyertai seperti demam, nyeri, otot lemas, hingga pada fase kritis adanya kerusakan pembuluh darah paru dan kebocoran cairan sehingga menyebabkan edema dan gagal napas akut.

“Biasanya kematian bisa sampai 40 persen dengan mekanisme utama adanya vascular leakage syndrome, sehingga paru terisi cairan dan ini terjadi hipoksia berat,” kata Dicky.

Dicky mengatakan perburukan kondisi menuju fase berat bisa terjadi dalam hitungan hari sehingga penanganan dan deteksi dini diperlukan. Faktor ketahanan hidup jika terjangkit virus hanta adalah diagnosis yang tepat dan cepat untuk menghindari fase paru berat dan kematian karena keterlambatan diagnosis.

Sampai saat ini tidak ada terapi antivirus yang spesifik untuk penyakit ini, namun terapi suportif bisa dilakukan seperti memenuhi kebutuhan oksigen dengan ventilator dan manajemen cairan yang ketat. Ia juga mengatakan potensi virus ini untuk menjadi pandemi global sangat kecil karena penularan utama bukan antar manusia.

Ia juga mengingatkan untuk menjaga kebersihan diri khususnya di lingkungan yang tinggi risiko seperti lingkungan kapal laut, atau di ruangan tertutup dengan ventilasi terbatas.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pencegahan terbaik virus hanta dengan pengendalian tikus



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026