Logo Header Antaranews Kepri

Dinkes Batam targetkan penurunan angka kematian ibu dan bayi lewat intervensi ahli

Jumat, 8 Mei 2026 13:26 WIB
Image Print
Skrining kesehatan masyarakat oleh tenaga medis puskesmas Dinkes Batam di Batam, Kepri (30/4/2026). ANTARA/Amandine Nadja

Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau menargetkan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2026 melalui intervensi ahli kebidanan dan skrining untuk kasus berisiko tinggi.

Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi saat dihubungi di Batam, Jumat, mengatakan AKI Kota Batam pada 2025 tercatat sebesar 151 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat dari tahun 2024 yang 72 per 100.000 kelahiran hidup.

Sementara itu, angka kematian bayi (AKB) pada 2025 mencapai 8,96 per 1.000 kelahiran hidup, naik dibandingkan 2024 sebesar 5,65 per 1.000 kelahiran hidup.

“Target kita tentu tetap menurunkan. Walaupun angka kita sebenarnya masih di bawah angka nasional,” kata Didi.

Sebagai informasi, AKI di Indonesia pada 2025 tercatat 189 per 100.000 kelahiran hidup, dan AKB berada di 17 per 1.000 kelahiran hidup.

“Untuk awal 2026, data terbaru AKI dan AKB di Batam masih dalam proses pendataan,” kata dia.

Didi mengatakan salah satu kendala utama adalah skrining terhadap kasus kehamilan risiko tinggi yang belum optimal di fasilitas kesehatan swasta maupun di praktik mandiri bidan.

Baca juga: Rutan Batam razia kamar cegah peredaran ponsel, pungli dan narkoba

“Umumnya dari sisi skrining kasus risiko tingginya yang masih kurang optimal. Kasus kehamilan risiko tinggi yang menjadi perhatian antara lain ibu hamil berusia di atas 35 tahun, hamil pada usia terlalu muda, hingga kehamilan anak keempat atau lebih,” kata Didi.

Untuk menekan AKI dan AKB, Dinkes Batam terus melakukan sosialisasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat dengan menghadirkan tenaga ahli kebidanan dan kesehatan ibu-anak.

“Namun kita akan menyosialisasikan kepada tenaga kesehatan dan masyarakat dengan menghadirkan tenaga ahli kebidanan agar mereka juga memahami pentingnya skrining,” ujarnya.

Didi mengatakan bidan memiliki peran penting dalam edukasi gizi, pemberian ASI dan MPASI (Makanan Pendamping ASI), pemeriksaan tumbuh kembang anak, hingga pelayanan antenatal care (ANC) terpadu.

Bidan juga melakukan pendampingan pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), pemberian suplemen gizi dan imunisasi, serta pemantauan kondisi ibu dan bayi secara rutin melalui pos pelayanan terpadu (posyandu) dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

“Peran bidan sangat penting mulai dari edukasi, pemantauan tumbuh kembang anak, pelayanan kehamilan, sampai intervensi gizi untuk mencegah stunting,” katanya.


Baca juga: OJK Kepri bekali lansia dan pelaku usaha ilmu perencanaan keuangan



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026