Logo Header Antaranews Kepri

Khawatir soal Taiwan di China, Perdana Menteri Jepang ingin hubungi Trump

Jumat, 15 Mei 2026 12:03 WIB
Image Print
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berbicara pada konferensi pers di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Xinhua/Pool/Rodrigo Reyes Marin/aa.)

Tokyo (ANTARA) - Pemerintah Jepang memantau hasil pertemuan antara Amerika Serikat dan China, Kamis (14/5), di tengah kekhawatiran Presiden AS Donald Trump akan mengajukan konsesi terkait isu Taiwan sebagai imbalan dalam kesepakatan dagang.

Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi, yang pernyataannya soal Taiwan pada November lalu mengakibatkan pemburukan hubungan dengan Beijing, sedang mempertimbangkan untuk menghubungi Trump yang sedang bertemu Presiden China Xi Jinping, kata seorang pejabat senior Jepang.

Seperti dilaporkan Kantor Berita Xinhua, Xi mengatakan kepada Trump dalam pertemuan tertutup mereka bahwa kedua negara akan mengalami bentrokan, bahkan konflik, sehingga dapat merusak hubungan sepenuhnya; kecuali jika AS menangani isu Taiwan dengan tepat.

Baca juga: Iran dilaporkan masih miliki 70% potensi rudal

Adapun PM Takaichi, di hadapan anggota parlemen, mengatakan serangan terhadap Taiwan dapat memicu respons balasan dari Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung AS. Tokyo juga amat prihatin atas tindakan Beijing yang semakin "sewenang-wenang" di kawasan.

Pemerintah AS menyatakan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. Sementara itu, Jepang menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta mendorong isu tersebut diselesaikan melalui dialog.

Jepang juga tetap mempertahankan hubungan non-pemerintah dengan Taiwan.

Dengan percakapan tersebut, Jepang akan mendengarkan pandangan-pandangan yang diutarakan dalam pertemuan untuk menetapkan analisis dan asesmen yang komprehensif.

Sumber: Kyodo



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Takaichi ingin telepon Trump khawatir AS-China kompromi soal Taiwan



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026