Logo Header Antaranews Kepri

Lionel Messi pantas disebut GOAT

Jumat, 17 Juli 2026 07:20 WIB
Image Print
Suporter tim nasional Argentina merayakan kelolosan negaranya ke final Piala Dunia 2026 dengan membentangkan foto dua pesepak bola besar negara mereka, Diego Maradona dan Lionel Messi, di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). Argentina ke partai puncak setelah menumbangkan Inggris dengan skor 2-1. ANTARA/Michael Siahaan.

Jakarta (ANTARA) - Terlepas hasil final Argentina versus Spanyol nanti, status Lionel Messi sebagai pesepak bola yang istimewa tak akan berubah.

Dia bukan sembarang pemain. Waktu dan usia pun tampaknya tak mampu menghapus keistimewaannya.

Di usia yang sudah jauh melewati puncak karier seorang pesepak bola, ia masih mampu bersaing dengan pemain-pemain yang jauh lebih muda. Fakta itu saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Messi memang istimewa.

Hanya Kylian Mbappe yang mampu menyamai pencapaiannya dalam urusan mencetak gol. Keduanya telah mengoleksi delapan gol selama Piala Dunia 2026.

Erling Haaland, Vinicius Junior, Harry Kane, dan Lamine Yamal, sudah tak bisa menandingi pencapaian kapten Argentina yang sudah berusia 39 tahun itu.

Tidak hanya dalam soal gol, peran vital Messi untuk Argentina nyaris tidak masuk akal, karena untuk seorang pemain yang hampir berusia 40 tahun, dia tetap menjadi pemain paling menonjol di banyak parameter.

Di antara empat tim yang masuk semifinal, dengan 34 peluang yang sudah dia ciptakan, Messi bukan hanya pencipta peluang terbanyak untuk Albiceleste, tetapi juga melebihi pencapaian Kane, Mbappe dan Yamal yang masing-masing menjadi pencipta peluang terbanyak untuk tim-timnya.

Padahal, stamina Messi telah banyak terkikis usia dan gerakannya tak lagi secepat dahulu. Ia juga menjadi target utama kawalan bek-bek lawan, termasuk para pemain Inggris. Namun, semua itu tampaknya belum cukup untuk menghentikan pemain yang keistimewaannya tak kunjung lekang oleh waktu.

Sudah sering tim lawan harus mengerahkan lebih dari dua pemain untuk menghentikan Messi. Tetap saja dia bisa membebaskan diri dari kawalan itu.

 

Teladan bagi tim

Apakah cuma gol dan peluang?

Tentu saja tidak, karena Messi juga kampiun dalam melepaskan umpan-umpan silang berbahaya, yang dua di antaranya menjadi jalan bagi Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez untuk mencetak gol yang menyingkirkan Inggris dalam semifinal Piala Dunia ini.

Catatan Messi dalam soal umpan silang melebihi statistik sama yang dimiliki Declan Rice di Inggris, Ousmane Dembele di Prancis, dan Alex Baena di Spanyol, yang masing-masing menjadi pemberi umpan silang terbanyak untuk tim mereka. Messi melepaskan 41 umpan silang, Baene 37, Rice 36, dan Dembele 25.

Pun dalam assist. Messi hanya kalah dari gelandang serang Prancis, Michael Olise. Jika Olise sudah membuat lima assist, maka Messi sudah empat assist.

Dalam urusan membawa atau mengirim bola dari daerah permainan sendiri untuk menembus pertahanan lawan, Messi tetap super, terutama jika melihat usianya yang sudah uzur untuk sepak bola profesional.

Fakta dalam usia setua itu Messi masih bisa melepaskan diri dari kawalan pemain-pemain lain yang lebih muda dan lebih kekar, mendribel bola dan menyalurkannya dengan efektif, serta masih klinis di depan gawang lawan, adalah bukti betapa istimewanya Messi.

Itu semua juga menunjukkan bahwa dia tetaplah seorang pekerja keras seperti dia saat muda dulu. Jika pun dia melambat, maka haruslah dipahami bahwa tak mungkin orang yang lebih tua bisa lebih cepat dari yang lebih muda.

Hal yang pasti, kerja keras dan totalitasnya selama ini telah menjadi teladan efektif bagi pemain-pemain Argentina lainnya.

Dengan teladan itu pula dia memperoleh respek optimal di dalam tim, yang membantunya mendapatkan rekan-rekan satu tim yang ideal yang bergerak dalam ritme, irama dan visi yang dia inginkan.

 

Tetap yang terbesar

Banyak orang menganggap dia hanya sukses bersama Barcelona, tetapi gagal bersama tim dan liga lain.

Dia memang gagal bersama Paris Saint Germain setelah hanya bisa membuat 32 gol dan 34 assist dari 75 laga selama 2021-2023 bersama klub Prancis itu.

Messi yang sebenarnya terpaksa meninggalkan Barcelona demi mengatasi masalah keuangan yang dihadapi klub Spanyol itu, dan saat bersamaan hanya PSG yang mampu membeli Messi, tidak mendapatkan lingkungan senyaman Barcelona di PSG.

Ini mungkin kelemahan Messi, tidak bisa bersaing dan berkonflik dengan pemain yang egonya sama tinggi dengan dia, terutama Kylian Mbappe.

Namun demikian, setelah dua tahun bersama Inter Miami, pada 2025 dia mempersembahkan Piala MLS pertama dan sekaligus Supporters' Shield pertama Inter Miami. Dia juga menjadi pemain terbaik MLS pada 2024 dan 2025.

Kini, pencapaian dia dikuatkan dalam Piala Dunia 2026, dengan tetap menjadi pemain paling bersinar dan paling menonjol.

Final melawan Spanyol akan semakin memvalidasi Messi sebagai pesepak bola paling istimewa di jagat ini, yang tak luntur oleh usia.

Dia tetap pantas dipredikati GOAT, "greatest of all time", pemain terhebat sepanjang masa. Tak peduli Argentina kalah atau menang dalam final nanti.


Baca selanjutnya
Kerja keras...
 



Oleh
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026