Logo Header Antaranews Kepri

Pengamat: Pemilu Berpotensi Jadi Ajang "Hakimi" Partai

Senin, 23 September 2013 15:25 WIB
Image Print

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji Suradji berpendapat, sebagian warga masyarakat akan menjadikan Pemilu 2014 sebagai ajang untuk "menghakimi" partai politik dan caleg yang mereka tidak sukai.

"Ada anggapan bahwa Pemilu 2014 akan dijadikan ajang untuk 'menghakimi' partai maupun caleg yang tidak peduli akan nasib mereka salama ini. Anggapan itu ada benarnya. Partai dan caleg tentu akan kehilangan suara dari pemilih yang merasa kecewa," katanya, yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univerrsitas Maritim Raja Ali Haji, di Tanjungpinang, Senin.

Kandidat doktor di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta itu menambahkan, sebagian masyarakat memiliki pengalaman atau rekam jejak mengenai masing-masing partai politik dan caleg. Penilaian terhadap peserta pemilu terjadi karena adanya interaksi dengan masyarakat.

Dengan kondisi itu, lanjut dia, partai dan caleg yang gemar mengobral janji dan tidak memiliki sikap yang baik akan ditinggalkan pemilih. Hal itu sebagai bentuk hukuman yang diberikan pemilih kepada mereka.

"Masyarakat sudah sangat cerdas dalam menghadapi pemilu. Mereka akan cukup berhati-hati menggunakan hak suaranya," ujarnya.
Suradji yang juga mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam itu mengemukakan, Pemilu 2014 merupakan ajang untuk melanggengkan kekuasaan anggota legislatif. Namun bagi sebagian orang, pesta demokrasi dijadikan sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa ia memiliki pengikut yang diharapkan mampu mengantarkanya menjadi anggota dewan.

"Semua anggapan itu tentu tidak salah, karena sesungguhnya pemilu memberikan harapan baru, harapan bagi calon anggota legislatif maupun bagi partai politik dan masyakarat yang memiliki otoritas untuk memilih. Oleh karenanya, maka baik bagi parpol, caleg akan berjuang dan bekerja mati-matian agar mereka kembali berkuasa dan menduduki kursi empuk sebagai wakil rakyat," ucapnya.

Untuk itu, kata dia, biasanya para caleg akan mengeluarkan segala kemampuan baik secara ekonomi maupun secara fisik untuk memperebutkan suara pemilih. Tentu bagi caleg yang bermodal, lamanya waktu menjelang Pemilu 2014 tidak menjadi soal karena "amunisi" mereka cukup banyak.

Sementara bagi sebagian pemilih lamanya waktu tunggu pada Pemilu 2014 dijadikan alasan untuk "menguras" energi para calon anggota legislatif.

"Dalam menyikapi hubungan antara calon anggota legislatif dan pemilih seperti itu maka sesungguhnya tidak memberikan harapan bagi perbaikan kualitas Pemilu 2014. Dengan pola hubungan seperti itu maka Pemilu hanya dijadikan sarana untuk melanggengkan kekuasaan bagi kaum yang bermodal saja," ungkapnya.(Antara)

Editor: Dedi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026