Logo Header Antaranews Kepri

Warga Anambas Takut Banjir

Jumat, 6 Desember 2013 15:09 WIB
Image Print
Sungai Sugih/Radja

Anambas (Antara Kepri) - Curah hujan yang tiada hentinya di Pulau Tarempa, ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas membuat sejumlah warga di bantaran sungai Sugih was-was karena kuatir sungai tersebut meluap.

"Akhir-akhir ini sungai Sugih sudah mulai mengkhawatirkan. Kemaren sudah sempat meluap, tapi belum sampai masuk kerumah saya, demikian ungkap salah seorang warga Jln. Patimura, Ferry, kepada Antara, Jumat .

Ferry mengatakan, setiap tahun sungai Sugih meluap, terutama ketika curah hujan tinggi pada saat malam hari debit air sungai yang mengalir dari pegunungan akan semakin besar.

Apalagi kalau malam, waktu air laut pasang. Bayangkan saja kalau air dari gunung besar, ditambah lagi dengan pasangnya air laut , bisa dipastikan air sungai akan meluap. Paling parah bisa sampai masuk ke rumah-rumah warga, Jelas Ferry.

Kondisi banjir yang kerap terjadi pada malam hari membuat sebagaian warga khawatir dan tidak nyaman untuk tidur. Sejumlah warga yang terletak di pinggiran sungai mengaku waspada setiap malam, karena banjir bisa saja terjadi setiap saat.

Kita tetap waspada lah. Kalau tidak, nanti lagi enak-enak tidur ngak taunya rumah sudah kebanjiran, aku seorang warga jalan Patimura, Obed.

Dijelaskanya , kendati setiap tahun banjir, namun kasus terparah sungai Sugih terjadi pada tahun 2004 silam. Banjir yang terjadi pada malam hari tersebut mencapai tinggi 1 meter. Ferry maupun Obed mengalami kondisi tersebut mengaku sangat khawatir kejadian serupa akan kembali terjadi pada tahun ini karena curah hujan di Kepulauan Anambas terlalu tinggi.

Warga berharap, setelah Anambas menjadi kabupaten, Pemda bisa mencarikan solusi terhadap banjir tahunan yang kerap meresahkan warga pada akhir tahun, sebab warga mengaku tidak nyaman dengan rong-rongan banjir pada malam hari, ketika mereka seharusnya beristirahat setelah beraktifitas seharian.

Kita berharap pemerintah bisa segera mencarikan solusinya. Sekarang ini kalau hujan kita khawatir dan bertanya-tanya, air masuk kerumah ngak yah. Harusnya malam kita tidur, jadi tidak bisa nyenyak dan akhirnya aktifitas kita pada siang hari juga terganggu karena mengantuk, tutur Ferry.

Sementara itu Lurah Tarempa, Daruzzaman mengaku sebelumya telah memikirkan solusi untuk mengurangi banjir tahunan tersebut. Kita sudah pikirkan solusinya. Salah satunya dengan pengerukan sungai, ujar Daruzzaman saat ditemui terpisah.

Namun hal tersebut urung dilakukan oleh pihak kelurahan, karena Dinas Pekerjaan Umum (PU) sudah merencanakan pelebaran jalan untuk Jln. Patimura, yang otomatis juga akan melakukan pengerukan sungai Sugih tersebut.

Tapi ternyata proyek yang memakan anggaran Rp3 Milyar tersebut tidak bisa dilaksanakan, karena setelah proses pelelangan selesai, ternyata waktu pengerjaan proyek tersebut juga tidak mencukupi.

"Jadi terpaksa pekerjaannya ditunda. Karena waktu tidak mencukupi. Padahal di dalam proyek tersebut ada juga pengerukan sungai, itu menjadi satu-satunya harapan kita untuk mengurangi dampak banjir tahunan di sepanjang bantaran sungai Sugih," jelas Daruzzaman.

Daruzzaman sendiri mengaku kini tidak bisa memikirkan alternatif lain untuk mengurangi banjir tersebut. Dirinya hanya bisa memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar untuk tetap waspada terhadap ancaman banjir yang bisa datang sewaktu-waktu.

"Solusi lain belum terfikirkan oleh Saya, mudah-mudahan tahun depan kita bisa
laksanakan pengerukan sungai Sugih. Namun untuk tahun ini saya cuma bisa mengimbau
masyarakat untuk tetap waspada jika sewaktu-waktu ancaman banjir datang," imbaunya. (Antara).

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026