Logo Header Antaranews Kepri

HIV/AIDS Renggut 54 Warga Batam

Rabu, 12 Februari 2014 15:11 WIB
Image Print
Logo KPA Batam

Batam (Antara Kepri) - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam mencatat selama 2013 sebanyak 54 orang meninggal setelah terinveksi virus yang menyerang kekebalan tubuh tersebut.

"Meski jumlahnya mencapai 54 orang meninggal, namun dibanding 2012 jumlah korban meninggal menurun. Pada 2012 jumlahnya mencapai 61 orang," kata Sekretaris KPA Kota Batam, Kornelis Balawangan di Batam, Rabu.

Selain korban meninggal yang berkurang, selama 2013 jumlah pasien "acquired immuno deficiency syndrome" (AIDS) baru di Kota Batam pada 2013 mencapai 198 terdiri dari 106 perempuan dan 92 laki-laki. Angka tersebut menurun dibanding 2012 dengan penderita baru mencapai 289 orang.

Pada 2013, lanjutnya, untuk pasien "human immunodeficiency virus" (HIV) positif berjumlah 577 orang, yang terdiri dari 287 perempuan dan 290 laki-laki. Sementara pada 2012 jumlah HIV positif yang terdata sebanyak 539 orang.

"Jumlah orang yang melakukan tes dan konseling pada 2013 sebanyak 10.520 orang, terdiri dari 7.193 perempuan dan 3.327 laki-laki," kata dia.

Data tersebut diperoleh dari pusat konseling di RSUD Embung Fatimah, RS Budi Kemuliaan, RS Elisabeth, dan Puskesmas Lubukbaja yang selama konsen memberikan pengarahan dan pencegahan HIV/AIDS.

"Angka tes yang meningkat dan pasien positif HIV/AIDS yang turun ini bisa terwujud berkat kegiatan-kegiatan kampanye yang dilakukan berbagai pihak," kata Kornelis.

Ketua Harian KPA Batam, Pieter Pureklolong sebelumnya mengatakan, kasus HIV/AIDS di Batam pertama kali ditemukan pada 1992. Sejak tahun itu jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

"Mulai 1992 sampai 1999, penyebab penyebaran HIV/AIDS di Batam karena hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, 2000 sampai 2006 karena narkoba-jarum suntik, dan 2007 sampai sekarang, kembali lagi ke hubungan seks," kata Pieter.

KPA Batam mencatat, penyebab utama peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS ialah banyaknya lelaki hidung belang yang menjadi pelanggan wanita pekerja seks komersial sehingga suami yang terjangkit juga menularkan pada istri di rumah.

"Itu sangat berbahaya, karena selain pada istri juga bisa menularkan pada anak yang dilahirkan oleh istri yang mengidap HIV/AIDS dari suami," ujarnya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026