Mak Nini, Politisi Tangguh Melayu

id Mak, Nini, Politisi, Tangguh, Melayu

Mak Nini, Politisi Tangguh Melayu

Raja Syahniar Usman (antarakepri.com)

Suara lembut keluar dari mulut seorang wanita kelahiran Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, mengawali wawancara khusus, yang telah disepakati kemarin sore.

Sapaan disertai bahasa gaul kental disampaikan wanita yang baru 10 hari lalu merayakan ulang tahunnya ke-65. Meski sudah berusia senja, sinar matanya memancarkan semangat yang mungkin tidak dimiliki wanita lain se-usianya.

Dia adalah Raja Syahniar Usman. Wanita yang sehari-hari berbicara kental dengan menggunakan bahasa Melayu itu biasa disapa Mak Nini atau Bunda.

Mak Nini terlahir dari keluarga yang sederhana, satu dari tujuh anak yang lahir dari rahim Encik Masna ini tumbuh menjadi politisi tangguh.

"Saya bukan dari keluarga politisi, tetapi beberapa diantara adik-beradik saya ada yang menjadi politisi. Raja Yusuf, ayah saya dahulu bekerja sebagai staf di Pertamina Tanjunguban, Bintan, Kepulauan Riau (Kepri)," katanya.

Karir politik Mak Nini justru berkembang setelah mengikuti jejak Raja Usman Draman, suaminya. Pria yang telah didampinginya selama sekitar 35 tahun itu memang tidak hanya sukses di birokrasi pemerintah, melainkan juga sebagai legislator tingkat daerah hingga pusat.

Raja Usman Draman pernah menjadi Wali Kota Batam, kemudian Bupati Inhil (1989-1994). Selain itu, Raja Usman juga pernah menjabat sebagai Kepala Inspektorat Riau tahun 1994-1995, kemudian menjadi Kepala Badan Perencanaan Daerah Riau tahun 1995-1997.

Karir suami Mak Nini terus menanjak, karena pada tahun 1997-1999 menjadi anggota DPR.

"Tahun 1999-2003 dia dipercaya menjadi Ketua Dewan Pengawas Perusda Riau. Setelah itu dia istirahat, menikmati masa-masa tua," katanya.

Sepanjang Raja Usman Draman berkarya, Mak Nini aktif di berbagai organisasi, seperti PKK dan Dharma Wanita.

Di awal pernikahannya, Raja Usman Draman bekerja sebagai staf di Dinas Pekerjaan Umum Riau. Sedangkan Mak Nini hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi dan membesarkan tiga anaknya.

"Sekarang saya punya tiga orang anak, dan cucu enam. Anak yang paling tua mengikuti suaminya bekerja di Papua, sedangkan anak nomor dua adalah Fahmizal Usman bekerja sebagai Kabiro Humas Pemprov Riau dan anak paling bungsu Asmizal, manajer di Hotel Ayana Bali," ucapnya.

Usia 28 Tahun

Mak Nini sebenarnya mengenal dunia politik saat berusia 28 tahun. Saat itu, dia menjabat sebagai Ketua Himpunan Wanita Karya. Kemudian dia menjadi anggota Dewan Penasehat Golkar Riau pada 1983-1989.

"Saya mengisi waktu kosong dengan mengambil peran di organisasi, tanpa menelantarkan anak-anak saya. Aktivitas saya lebih banyak di Pekan Baru dan kota-kota lainnya, mengikuti jejak suami," katanya.

Kemudian tahun 2003 Mak Nini kembali tanah kelahirannya. Saat itu Golkar Kepri terbentuk.

Awal terjun ke dunia politik di Kepri, dia dipercaya sebagai Ketua Pemberdayaan Wanita DPD Partai Golkar Kepri.

"Setelah merasa memiliki pengalaman yang cukup di partai, saya baru berani mencalonkan diri sebagai caleg. Tetapi itu butuh perjuangan keras, karena saya adalah seorang perempuan," ungkapnya sambil mengenang perjuangannya sekitar 14 tahun silam.

Mak Nini bukan hanya berusaha meyakinkan suami dan anak-anaknya, melainkan juga partai. Dia juga berupaya meyakinkan kerabat dan teman-temannya untuk maju dengan menggunakan Partai Golkar.

Butuh perjuangan keras untuk melakukan hal itu. Apalagi saat itu tidak banyak perempuan yang terjun ke dunia politik, yang dianggap "abu-abu" dan jahat.

"Saya yakin politik itu bersih jika dibawa dengan baik dan untuk kepentingan orang banyak. Yang jahat itu bukan politik, tetapi orang-orang yang memanfaatkan sarana politik untuk kepentingan pribadi," tegasnya.

Tahun 2004, wajah Mak Nini menghiasi kertas suara di tempat pemungutan suara (TPS). Tidak tanggung-tanggung, berbekal rasa percaya diri, dia langsung mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Kepri.

Rasa khawatir tidak berhasil mendapatkan suara terbanyak itu muncul pada saat itu. Namun di sisi lainnya, ada keyakinan akan berhasil menjadi menjadi caleg terpilih.

"Perasaan saya campur aduk. Mungkin karena ini pertarungan politik perdana saya. Dan hasilnya, saya berhasil mendapatkan suara yang signifikan sehingga mengantarkan saya menjadi anggota legisltif," katanya, yang memiliki moto hidup "Merekat Kebersamaan Membangun Negeri".

Kurang "Keras"

Di lembaga legislatif, suara perempuan dianggap sebagian anggota legislatif kurang "keras" sehingga terkadang dianggap tidak ada. Jumlah politisi perempuan yang sangat sedikit terkadang menyulitkan mereka memperjuangan hak-hak kaum perempuan.

Usulan-usulan yang disampaikan legislator perempuan jarang ditanggapi. Apalagi usulan itu tanpa argumentasi yang kuat, selalu dimentahkan.

"Kalau ingin ditanggapi harus belajar, dan menyampaikan usulan disertai argumentasi yang kuat dan terukur. Kalau tidak seperti itu, mata dianggap angin lalu," katanya.

Hal itu yang menyebabkan Mak Nini tidak hanya mengandalkan kekuatan politik dalam bekerja, melainkan juga terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kondisi kerja. Sampai sekarang, dia mengaku terus belajar mengikuti perkembangan tugas dan tanggung jawabnya.

Apalagi di awal karirnya, Fraksi Golkar DPRD Kepri mempercayai Mak Nini sebagai anggota Komisi I Bidang Hukum dan Pemerintahan.

"Telinga saya agak tipis karena melihat atau merasakan sikap politisi pria mengabaikan perempuan. Saya pasti protes, karena perempuan dan pria itu saat bekerja itu memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan mereka adalah kecerdasan, semangat, kejujuran dan kepedulian terhadap masyarakat," katanya, yang pada tahun 2010 menjabat sebagai Ketua Kaukus Perempuan Parleman.

Setelah lima tahun berkarir di DPRD Kepri (2004-2009), Mak Nini kembali mencalonkan diri, masih dengan menggunakan "perahu" yang sama. Kedekatannya dengan masyarakat membuahkan hasil yang manis. Mak Nini kembali terpilih menjadi anggota DPRD Kepri periode 2009-2014.

Persaingan ketat yang terjadi pada Pemilu 2009, tidak membuatnya merasa khawatir. Keyakinan itu terbentuk setelah dia melakukan berbagai hal yang bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, tanpa membeda-bedakan suku dan agama.

"Saat pertama kali menjadi anggota DPRD Kepri, saya terus-menerus berbuat untuk kepentingan masyarakat. Tidak hanya pada saat reses, melainkan setiap ada kesempatan, saya menyerap aspirasi masyarakat untuk diperjuangan menjadi program pembangunan," ujarnya.

Tahun 2009-2014, Raja Syahniar kembali menjabat sebagai anggota Komisi I DPRD Kepri. Hal itu membuatnya merasa heran, karena jabatan itu melekat sejak tahun 2004.

Fraksi Golkar, kata dia, tentu memiliki penilaian tersendiri dalam menetapkan anggotanya di komisi. Meski sudah "menua" di Komisi I DPRD Kepri, Mak Nini mengaku tidak pernah jenuh belajar.

Belajar adalah tuntutan tugas, karena peraturan selalu mendapat perbaikan. Jika tidak belajar, dia yakin tidak akan dapat berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.

"Kalau ingin usulan didengar, harus belajar. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah komunikasi dengan sesama anggota legislatif harus tetap terjalin, karena legislator tidak dapat bekerja sendiri," katanya.

Dan kini, Raja Syahniar kembali menghiasi kancah perpolitik di Kepri untuk daerah pemilihan Tanjungpinang. Pertarungan kali ini cukup berat, karena banyak politisi kuat bermunculan. Sedangkan kursi yang diperebutkan di Tanjungpinang hanya lima.

"Saya harus bekerja keras dan berkarya, memberi pendidikan politik kepada pemuda-pemudi untuk tetap semangat membangun negeri. Semangat mereka akan terbangun setelah melihat wanita seusia saya masih semangat memikirkan dan berbuat untuk kepentingan masyarakat," katanya.(Antara)

Editor: Dedi

Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE