
Modal Politik Calon DPR "Incumbent" Lebih Kecil

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Anggota DPR RI daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Riau Harry Azhar Azis mengaku modal politik yang dikeluarkannya sebagai caleg pada Pemilu 2014 lebih kecil dibanding pesta demokrasi sebelumnya.
"Kalau tahun 2009 saya mengeluarkan uang lebih dari Rp1,5 miliar, tetapi sekarang baru sekitar Rp500 juta. Hingga masa tenang, biaya politik yang dikeluarkan tidak mencapai Rp1 miliar," tambahnya, di Tanjungpinang, Sabtu.
Harry sejak tahun 2004 sampai sekarang menjadi anggota DPR daerah pemilihan Kepri. Biaya politik yang dikeluarkan lebih kecil pada Pemilu 2014 lantaran dia merasa sudah dikenal masyarakat Kepulauan Riau (Kepri).
Hal itu disebabkan selama ini dirinya telah mengunjungi masyarakat yang tinggal berbagai kawasan di Kepri. Selain itu, kata dia, berbagai aspirasi masyarakat dan keinginan pemerintah berhasil diperjuangkan di tingkat pusat.
Meski demikian dia mengaku tidak akan pernah berjanji kepada masyarakat, karena DPR tidak memiliki kewenangan yang besar seperti pihak eksekutif.
"Saya menyadari tingkat popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan perolehan suara. Karena itu saya masih terus bergerak, mendekati masyarakat dan menyosialisasikan visi dan misi Partai Golkar," ujarnya.
Tahun 2009 suara yang diperoleh Harry sekitar 52.000 sedangkan target partai 102.000 kemungkinan target suara 30 persen untuk tingkat pusat, provinsi dan kabupaten serta kota. Kalau bisa dapat dua kursi.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Partai Golkar yang sampai sekarang mempercayakan sebagai anggota DPR, dan kembali ditetapkan sebagai caleg dapil Kepri," katanya.
Harry juga merasa kemenangannya selama dua kali pemilu karena dukungan dari berbagai media lokal maupun nasional. Wajahnya hampir setiap hari menghiasi media massa.
"Saya dekat dengan media massa," ucapnya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
