Logo Header Antaranews Kepri

Sejumlah Demonstran Tuntut Pembubaran Syiah di Karimun

Selasa, 10 Juni 2014 21:45 WIB
Image Print
Sejumlah demonstran berdemo menuntut pembubaran aliran Syiah di Kantor Bupati Karimun, Selasa (10/6). (antarakepri.com/Rusdianto)

Karimun (Antara Kepri) - Puluhan demonstran yang menamakan diri Forum Pembela Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang berdemonstrasi di Kantor Bupati Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa, menuntut pembubaran aliran Syiah yang mereka nilai menyimpang dari ajaran Islam.

Para demonstran menyuarakan tuntutannya dengan mengusung sebuah spanduk berisikan penolakan keberadaan aliran Syiah yang memusatkan kegiatannya di Wonosari, Baran, Kecamatan Meral.

"Kami dengan tegas menolak keberadaan Syiah di Karimun," kata seorang demonstran Aswardi saat berorasi dalam aksi yang dikawal 150 personel dari Kepolisian Resor Karimun dan puluhan anggota Satpol PP.

Aswardi mengatakan keberadaan aliran Syiah menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat, apalagi aliran tersebut menurut dia terus mengembangkan ajarannya di kalangan warga yang sejak lama memeluk Islam.

Menurut dia, aliran Syiah menyimpang dari ajaran Islam sehingga harus dibubarkan.

"Pemerintah harus membuka mata lebar-lebar jangan akibat sikap kurang tanggap dari pemerintah mengakibatkan akidah anak cucu kami menyimpang dari Al Quran dan Sunnah Rasul," tuturnya.

Demonstran lainnya Firdaus, dalam orasinya mengatakan, kerukunan dan harmonisasi antarpemeluk agama di Karimun sudah berlangsung sejak lama, namun suasana harmonis ini mulai terusik dengan keberadaan aliran Syiah yang terus mengembangkan ajarannya.

"Sejak kecil kami di Karimun adalah pengikut Syariat Nabi Muhammad. Tidak ada aliran sesat di sini, tiba-tiba muncul aliran Syiah yang terus menyebarkan alirannya kepada saudara-saudara kami," kata dia.

Ia meminta pengikut Syiah menghentikan kegiatan mereka, terutama menyebarkan aliran kepada umat Islam.

Lebih tegas, Firdaus mendesak pemerintah membubarkan organisasi Syiah serta memantau aktivitas mereka agar tidak lagi menyebarkannya paham yang mereka anut kepada umat Islam.

"Kalau tuntutan kami tidak ditanggapi, jangan salahkan kalau kami akan kembali berunjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih besar. Tujuan kami semata untuk menegakkan syariat Islam di Bumi Berazam ini," kata Firdaus.

Setelah berorasi beberapa menit, para demonstran akhirnya diterima Wakil Bupati Karimun Aunur Rafiq. Aunur Rafiq dalam kesempatan itu meminta para demonstran agar tetap menjaga situasi yang cukup kondusif.

"Aspirasi saudara-saudara kami terima, dan tentunya Majelis Ulama Indonesia (MUI) berperan utama dalam menyelesaikan masalah ini," kata dia.

Ia mengatakan, persoalan keberadaan Syiah harus diselesaikan melalui dialog dengan melibatkan semua pihak, terutama organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

Jaga Ketat

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bagian Operasional Polres Karimun Komisaris Arifin Sihombing mengatakan menjaga ketat para demonstran agar tetap menyampaikan aspirasinya secara damai tanpa diwarnai tindakan anarkis yang dapat merusak keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Kami kerahkan 150 polisi untuk menjaga ketat aksi itu," katanya.

Ia juga mengatakan telah menugaskan sejumlah polisi untuk mengamankan pusat kegiatan Syiah, yaitu di Masjid Fatimah Azzahra milik Yayasan Nainawa, Wonosari, Kecamatan Meral.

"Enam hingga tujuh polisi kami tugaskan setiap hari di sana untuk pengamanan, tidak hanya memantau tindakan-tindakan yang dapat mengganggu kamtibmas," katanya.

Informasi dihimpun, konflik horizontal terhadap keberadaan Syiah di Karimun mencuat beberapa pekan lalu. Sejumlah polisi sempat dikerahkan untuk mengamankan pusat kegiatan aliran itu.

Dialog antara pengikut Syiah dengan beberapa tokoh Islam sempat digelar di Gedung Nasional namun belum menyelesaikan permasalahan. (Antara)

Editor: Budi Suyanto



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026