Logo Header Antaranews Kepri

Warga Sumatera Eksodus ke Anambas

Senin, 7 Juli 2014 12:08 WIB
Image Print

Anambas (AntaraKepri) - Konflik di Sumatera Tengah yang terjadi akibat pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) mendorong masyarakat di daerah itu mencari tempat pemukiman baru seperti di Kepulauan Anambas .

"Puluhan tahun lalu kami pindah kemari menghindar dari konflik PRRI," ujar seorang warga Dusun Sedak, Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan Selatan, Arif.

Ia yang kini sudah memasuki usia lansia ini bercerita bahwa dusun yang berpenghuni 42 kepala keluarga itu umumnya dari Kampar yang dahulu masih tergabung di Provinsi Sumatera Tengah, yang kemudian menetap disana puluhan tahun lamanya, juga termasuk dirinya berserta keluarganya , merupakan warga Kampar yang eksodus ke dusun itu.

"Sehari-harinya kami bekerja sebagai nelayan dan petani," katanya.

Ia menjelaskan, saat terjadi pemberontakan PRRI merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad
Husein di Padang, Sumatera Barat.

Kemudian gerakan ini mendapat sambutan dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, dimana pada tanggal 17 Februari 1958 kawasan tersebut menyatakan mendukung PRRI. Sebelumnya bibit-bibit konflik tersebut dapat dilihat dengan dikeluarkannya Perda No. 50 tahun 1950 tentang pembentukan wilayah otonom oleh provinsi Sumatera Tengah waktu itu yang mencakup wilayah provinsi Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi.

Namun apa yang menjadi pertentangan ini, dianggap sebagai sebuah pemberontakan oleh pemerintah pusat yang menganggap ultimatum itu merupakan proklamasi pemerintahan tandingan dan kemudian dipukul habis dengan pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di dalam sejarah militer Indonesia.

"Zaman dahulu kalau kita tidak mau ikut maka kita akan di bunuh ya terpaksa kami lari ke Anambas," katanya.

Pengaruh dari peristiwa ini juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran suku Minangkabau ke daerah lain serta kemudian menimbulkan efek psikologis yang besar pada sebagian besar masyarakat Minangkabau masa itu, yaitu melekatnya stigma pemberontak, padahal kawasan Minangkabau sejak zaman Belanda termasuk kawasan yang gigih menentang kolonial serta kawasan Indonesia yang setia dan banyak melahirkan pemimpin-pemimpin nasionalis masa pra kemerdekaan.

Selain beberapa tindakan kekerasan yang dialami oleh masyarakat juga menguncang harga diri, harkat dan martabat yang begitu terhina dan dihinggapi mentalitas orang kalah serta trauma atas kekalahan PRRI. Sampai hari ini para pelaku peristiwa PRRI tetap menolak dianggap sebagai pemberontak atas tindakan yang mereka lakukan

Selain warga Kampar yang memilih tinggal di Anambas juga warga Minang dari Sumatera Barat yang lebih dahulu menetap di daerah itu sejak 1935 pada masa penjajahan Belanda. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026