
Sopir Angkot Antre Beli BBM Setengah Hari

Karimun (Antara Kepri) - Organisasi Angkutan Darat Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan sopir angkot mengeluh tidak bisa beroperasi akibat harus mengantre beli bahan bakar minyak di SPBU Jalan Soekarno Hatta, hingga setengah hari.
"Antrean panjang kendaraan mengisi BBM di SPBU satu-satunya di Karimun itu telah mengganggu perekonomian masyarakat, terutama sopir angkot. Mereka tidak bisa mencari penumpang karena harus antre hampir setengah hari untuk mengisi bensin," kata Ketua DPC Organda Karimun Amirullah di Tanjung Balai Karimun.
Amirullah mengatakan, sejumlah sopir angkot Senin siang menyampaikan antrean panjang kendaraan untuk mengisi BBM di SPBU tersebut makin parah.
Pada Senin siang, ruas Jalan Soekarno Hatta dari arah Kantor Bupati Karimun kini dipenuhi kendaraan roda empat hingga satu kilometer, sementara dari arah berlawan pada ruas yang sama dipadati kendaraan roda dua.
Biasanya, kata dia, setengah dari ruas jalan itu masih bisa dilewati kendaraan, tapi sekarang tidak lagi bisa karena dipenuhi mobil, yang biasanya satu baris kini menjadi dua baris.
"Karimun dalam kondisi darurat BBM, dampak negatifnya mulai meluas di tengah masyarakat," kata dia.
Ia mengatakan beberapa sopir angkot mengaku menjual kembali bensin yang telah dibeli di SPBU karena tidak lagi dapat mencari penumpang karena hampir seharian antre menunggu giliran mengisi bahan bakar.
"Kalau sudah setengah hari antre, bagaimana lagi mereka dapat uang untuk setoran. Jadi mereka memilih menjual kembali bensin yang sudah dibeli, lalu antre lagi di SPBU," katanya.
Menurut Amirullah, banyaknya angkot yang tidak beroperasi karena antre di SPBU, menurut dia turut berdampak pada pendidikan. Anak-anak, menurut dia mulai kesulitan naik angkot sementara sepeda motor tidak bisa digunakan karena kehabisan bahan bakar.
"Banyak warga mengaku motornya tidak ada bensin, tidak bisa antar anaknya sekolah. Sementara angkot setiap hari berjejer di SPBU berjam-jam di SPBU," katanya.
Ia kecewa dengan Pemkab Karimun yang dinilai tidak serius bahkan ia menuding tidak peka sehingga pemandangan antrean tersebut sudah berlangsung berbulan-bulan.
Sementara itu, kata dia, pangkalan-pangkalan BBM yang mendapat pasokan dari APMS Kuda Laut Jaya, lebih banyak tutup daripada buka. Akibatnya, pengisian BBM tertumpu di SPBU Jalan Soekarno Hatta setelah Pemkab Karimun membongkar dan menertibkan kios-kios premium tanpa izin beberapa waktu lalu.
"Pangkalan-pangkalan itu hanya sempat buka satu hingga dua jam begitu mendapat pasokan premium dari APMS, karena langsung diserbu pengendara. Setelah itu tutup lagi berhari-hari, bahkan sempat hingga satu pekan. Bayangkan saja betapa paniknya masyarakat ketika pangkalan BBM tidak ada yang buka, sementara SPBU diwarnai antrean panjang," katanya.
Amirullah mengatakan pihaknya dalam beberapa kali pertemuan telah mengusulkan agar Pemkab Karimun membuat kartu kendali untuk mencegah penyelewengan BBM bersubsidi di SPBU.
Kartu kendali itu, menurut dia dibagikan kepada pengendara dan diberi tanda setiap kali mengisi bahan bakar untuk mencegah pengisian berulang-ulang oleh para pelangsir.
"Namun usulan kami itu tidak ditanggapi dengan alasan tidak ada anggaran. Menurut kami, pembuatan kartu kendali dengan stiker atau kerta tidak sampai memakan biaya puluhan juta. Kami kecewa Pemkab tidak peka bahkan terkesa membiarkan begitu saja tanpa solusi," katanya.
Selain kartu kendali, ia juga mengusulkan agar pengawasan distribusi BBM bersubsidi, baik premium maupun solar diperketat, terutama di laut untuk mencegah kebocoran. (Antara)
Editor: Kaswir
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
