
Industri Garmen Batam Kekurangan Order

Batam (Antara Kepri) - Industri garmen di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam kini kekurangan order karena harganya tidak kompetitif, kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kepulauan Riau Cahya.
"Banyak sektor, termasuk garmen, sudah tidak kompetitif sebab biaya produksinya tinggi. Apalagi ada rencana kenaikan upah," kata Cahya di Batam, Kamis, .
General Manager PT Yee Wo Indonesia Chen Yi Xiang mengakui perusahaannya kekurangan order, meskpun sudah terikat kontrak produksi dengan perusahaan lain.
Akibatnya, Yee Wo Indonesia kini mengurangi jumlah gedung yang disewanya di Kawasan Industri Tunas, dan menjual 30 unit mesin karena tidak terpakai.
Efisiensi yang dilakukan perusahaan garmen terssbut mulai meresahkan pekerja.
Pekerja PT Yee Wo Indonesia mengadu ke DPRD Kota Batam. Mereka khawatir perusahaan tersebut tutup, dan manajemennya kabur sebelum melunasi pesangon.
Ketua Serikat pekerja PT Yee Wo Heriyanto berharap perusahaan menjamin pekerja dengan menanamkan Rp8 miliar ke bank, sebagai antisipasi pembayaran pesangon jika perusahaan tutup.
"Garansi bank itu diperlukan, jika sewaktu-waktu perusahaan tutup," kata dia.
Namun permintaan itu ditolak pengusaha, karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan mengendapkan Rp8 miliar di bank.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam Udin P Sihaloho berharap pekerja mengerti kondisi pengusaha yang sedang kekurangan order dan tidak mungkin meletakkan uang di bank sebagai jaminan kesejahteraan pekerja.
Meski begitu, ia meminta pihak perusahaan berkomitmen untuk tidak menjual aset perusahaan yang lain tanpa sepengetahuan pekerja dan pihak kawasan industri.
Ia meminta pengelola kawasan industri mengawasi pergerakan barang di perusahaan garmen itu. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
