Logo Header Antaranews Kepri

Kubu Agung: Seharusnya Ansar Ahmad Diganti

Selasa, 7 Juli 2015 18:55 WIB
Image Print
Ansar gagal memimpin Golkar di Kepri. Sebab Golkar pada lima tahun lalu menurun drastis, hanya menang di Bintan dan Karimun

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Kubu Agung Laksono menyatakan seharusnya Ketua DPD Partai Golkar Kepulauan Riau Ansar Ahmad yang diganti melalui Musda Luar Biasa, karena gagal memenangi Pemilu 2010.

"Ansar gagal memimpin Golkar di Kepri. Sebab Golkar pada lima tahun lalu menurun drastis, hanya menang di Bintan dan Karimun," kata Pelaksana Tugas Sekretaris DPD Partai Golkar Kepri kubu Agung Laksono, Lamen Sarihi di Tanjungpinang, Senin.

Pernyataan Lamen itu sehubungan dengan pergantian dirinya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bintan. Lamen diganti melalui Musda Luar Biasa yang dilaksanakan pada 1 Juli 2015.

Pengganti Lamen yakni Nesar Ahmad, masih keluarga Ansar yang duduk di DPRD Bintan.

Lamen merasa penunjukan Sugito Rusmin sebagai Pelaksana Tugas Ketua Partai Golkar Bintan tidak sesuai prosedur. Hal itu disebabkan dia belum pernah diberi ruang untuk mengklarifikasi atau membela diri terkait alasan pergantian terhadap dirinya.

Seharusnya, kata dia Ansar tidak hanya menghubungi dirinya untuk melakukan Musda Luar Biasa, melainkan terlebih dahulu memberi ruang dan waktu kepada dirinya untuk membela diri.

Namun hal itu tidak mungkin dilakukan lantaran Ansar sudah dipecat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kepri oleh Agung Laksono beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjutnya saat ini pengurus yang berhak melakukan musda bukan kubu Ariburizal Bakrie, melainkan Agung Laksono. Hal itu disebabkan gugatan masing-masing kubu masih bergulir di pengadilan.

Dalam kondisi itu, maka legalitas organisasi yang diakui yakni kubu Agung Laksono berdasarkan hasil putusan Mahkamah Partai Golkar dan keputusan Kementerian Hukum dan HAM.

Dia meminta seluruh kader Golkar memahami bahwa kepengurusan Partai Golkar berdasarkan hasil Munas Golkar di Riau sudah dua kali demisioner sehingga tidak layak untuk dijadikan dasar dalam mempertahankan kepengurusan dari pusat hingga daerah.

"Belum banyak kader Partai Golkar yang memahami permasalahan itu," ujarnya.

Menurut dia, Ansar kurang memperhatikan Partai Golkar. Ansar lebih banyak bicara dibanding berbuat.

"Seharusnya Ansar Ahmad yang diganti, bukan saya. Proses pergantian saya juga tidak prosedural," katanya.

Selama ini Lamen mengaku tidak ingin meributkan permasalahan itu untuk menjaga kondusivitas di internal Partai Golkar.

"Kami bergerak sendiri-sendiri. Kalau saat Pemilu 2014 Golkar Bintan mendapat 6 kursi, itu bukan hasil kerja kerasnya, melainkan masing-masing kader," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026