
Kadinkes: Kualitas Udara Natuna Paling Buruk

Karena ini asap, kalau ISPU 200 di pabrik itu sudah berbahaya untuk kesehatan, tetapi ini asap, tidak seperti itu
Batam (Antara Kepri) - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tjetjep Yudiana menyatakan kualitas udara di Kabupaten Natuna dan Kepulauan Anambas paling buruk di antara kabupaten kota lain di Kepri.
"Paling parah itu Natuna dan Anambas, lebih dari Batam. Hal ini akibat terpapar kabut asap kebakaran hutan," kata Tjetjep Yudiana di Batam, Minggu.
Namun, dia tidak dapat memastikan kadar pencemaran udara di dua kabupaten paling utara itu karena Natuna dan Anambas tidak memiliki mesin indeks standar pencemaran udara seperti Batam.
Di Batam saja, kata dia, kadar ISPU fluktuasi di sekitaran 200, atau dalam level tidak sehat dan sangat tidak sehat. Belum pernah masuk level berbahaya.
Meski begitu, dia meminta masyarakat tidak panik dengan tingginya angka ISPU.
"Karena ini asap, kalau ISPU 200 di pabrik itu sudah berbahaya untuk kesehatan, tetapi ini asap, tidak seperti itu," kata Tjetjep.
Jumlah warga yang sakit karena terpapar debu asap juga relatif sedikit di seluruh Kepri. Dinkes belum melihat peningkatan pasien penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) signifikan.
"Itu berdasarkan jumlah warga yang ke puskesmas," kata Tjetjep.
Untuk mengurangi dampak buruk, Dinkes Kepri membagikan 100.000 masker kepada masyarakat, terutama di daerah yang terkena paparan kabut asap.
"Sebanyak 100.000 masker sudah kami bagikan, sekarang pesan 100.000 masker lagi," kata dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Batam Chandra Rizal mengatakan bahwa selama September 2015 tercatat 5.820 orang menderita ISPA akibat terpapar debu dari asap kebakaran hutan.
"(Penderita) ISPA pada bulan ini 5.820 orang, pada bulan lalu sebanyak 5.343 orang. Ini meningkat dari normal, yang biasanya sekitar 3.000 orang," kata Kepala Dinas.
Data itu diambil dari seluruh Puskesmas di Batam dan belum termasuk warga yang berobat ke klinik, rumah sakit, dan yang tidak berobat.
Chandra mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada pasien yang sampai harus dirawat inap akibat ISPA, apalagi sampai meninggal.
Dokter spesialis paru RSUD Embung Fatimah Antoni Sianturi menyatakan memang ada peningkatan jumlah pasien menderita gangguan paru. Namun, dia enggan memberikan keterangan terperinci.
"Secara statistik belum diketahui, apa karena udara yang kotor atau faktor lain," katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : YJ Naim
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
