Logo Header Antaranews Kepri

Imigrasi Batam Curigai Perdagangan Manusia Pencari Suaka

Selasa, 20 Oktober 2015 23:37 WIB
Image Print
Dan dalam beberapa kali saya sidak, mereka ribut. Ada juga yang mabuk. Saya khawatir mereka bersinggungan dengan masyarakat

Batam (Antara Kepri) - Imigrasi Batam mencurigai adanya perdagangan manusia di antara pencari suaka yang datang ke Kota Batam, Kepulauan Riau, dalam satu tahun terakhir.

"Karena berdasarkan informasi, mereka ini membayar untuk sampai ke sini," kata Kepala Wasdakim Imigrasi Klas I Khusus Batam, Rafli saat mengunjungi lokasi penampungan pencari suaka di Batam, Selasa.

Apalagi, kebanyakan pencari suaka datang dari Malaysia melalui pelabuhan tikus.

Berdasarkan CCTV di sekitar kantor imigrasi, terlihat para pencari suaka itu turun dari taksi, sebelum melapor ke imigrasi. Ada indikasi pencari suaka itu ditampung di suatu tempat, baru kemudian diantarkan ke kantor imigrasi.

Imigrasi akan menyelidiki pihak yang menampung para pencari suaka saat tiba di Batam, sebelum mengantarkan ke pelabuhan.

"Biasanya, kalau kami tampung imigrasi, memindahkannya ke hotel, dalam tempo satu jam, mereka datang lagi," kata dia.

Menurut dia, ada dugaan Kota Batam ditawarkan oleh pelaku perdagangan manusia kepada pencari suaka, karena perlakuan IOM dan masyarakat Batam sangat baik.

"Penanganan di Batam sangat nyaman, makanya mereka datang berbondong-bondong," kata dia.

Ia khawatir, jika terus dibiarkan datang ke Batam, maka akan timbul konflik di masyarakat, seperti yang terjadi di Medan dan di Bogor.

Di medan, pencari suaka terlibat pembunuhan dan di Puncak Bogor, pencari suaka diusir warga karena bertindak tidak menyenangkan.

"Dan dalam beberapa kali saya sidak, mereka ribut. Ada juga yang mabuk. Saya khawatir mereka bersinggungan dengan masyarakat," kata dia.

Rafli menegaskan, bila pencari suaka terlibat bentrok, maka akan ditindak berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Tidak ada kekebalan hukum untuk pencari suaka.

Ia mengatakan imigrasi hanya bisa melakukan pengawasan saja. Tidak bisa memulangkan, atau memindahkan ke daerah lain.

"Sampai mereka dapat tempat dari UNHCR, ya begini saja," kata dia.

Di tempat yang sama, wali kota mengatakan akan berupaya menciptakan tempat yang nyaman bagi pencari suaka, demi kemanusiaan.

Saat ini, di Batam terdapat sedikitnya 178 orang pencari suaka dari Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan dan Mesir.

Sementara itu, pencari suaka, Fatma mengaku mengeluarkan banyak dana untuk sampai di Batam.

Fatma yang berasal dari Somalia menempuh perjalanan panjang dari negaranya melalui Thailand, Malaysia baru tiba di Indonesia.

Dari Somalia ke Thailand kemudian Malaysia, ia melakukan perjalanan menggunakan pesawat.

Setibanya di Malaysia, semua dokumennya diambil, begitu pula uangnya. Di negara itu, ia juga disuruh melanjutkan perjalanan ke Indonesia melalui jalur laut.

"Saya menumpang kapal kayu kecil tengah malam," kata dia.

Di Batam, ia ditampung orang yang menurutnya baik hati, lalu mengantarkannya ke Kantor Imigrasi menggunakan taksi.

"Saya ditaruh di taksi, dan disuruh turun di imigrasi," kata dia. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026