
Kepri Dapat Jatah 3.000 Ton Beras Impor

Nanti setelah tiba di Batam, baru dikirim ke Tanjungpinang dan Karimun
Batam (Antara Kepri) - Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan jatah beras impor sebesar 3.000 ton dari pemerintah yang disalurkan melalui Bulog.
"Sebanyak 3.000 ton beras yang akan didatangkan ke Kepri," kata Penjabat Gubernur Kepri Agung Mulyana di Batam, Selasa.
Beras impor itu didatangkan dari Jakarta, bukan secara langsung dari negara pengimpor ke Batam, seperti biasanya.
Menurut Agung, jumlah itu relatif sedikit, hanya cukup hingga penyelenggaraan Pilkada pada 9 Desember 2015 saja sehingga belum cukup memperkuat ketahanan pangan.
Penjabat Gubernur menyatakan masih akan mengusahakan agar Batam mendapatkan kuota impor beras secara langsung dari negara pengimpor, demi memastikan pasokan pangan di perbatasan.
Apalagi, Batam berstatus Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang seharusnya bisa impor secara langsung.
Sementara itu, Wali Kota Batam Kepulauan Riau Ahmad Dahlan menyayangkan pemerintah mengimpor beras untuk Batam dilakukan melalui Jakarta, karena harganya tetap akan mahal setibanya di Batam.
"Kalau mau impor seharusnya langsung saja ke Batam," kata Wali Kota.
Harga beras impor yang masuk melalui Jakarta, diperkirakan tetap mahal karena ada biaya distribusi yang harus ditanggung konsumen.
Ia berharap pemerintah memberikan kuota impor beras langsung ke Batam karena lokasi Batam yang relatif lebih dekat dengan negara-negara pengimpor seperti Thailand dan Vietnam.
"Nanti setelah tiba di Batam, baru dikirim ke Tanjungpinang dan Karimun," kata wali kota yang sudah menjabat dua periode kepemimpinan itu.
Sementara itu, sambil menunggu kebijakan impor beras ke Batam, Wali Kota menyatakan akan melakukan Operasi Pasar demi menekan harga beras.
Namun, pelaksanaan OP itu masih harus menunggu koordinasi dari Bulog, sebagai penyedia pasokan beras.
Wali Kota memastikan pasokan beras di Batam cukup, hanya harganya saja yang mengalami kenaikan.
"OP bisa menstabilkan harga," kata mantan Humas Otorita Batam itu. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : YJ Naim
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
