
LAM di Lingga Belum Penuhi Peranannya
Kamis, 19 November 2015 18:23 WIB

LAM mulai berbenah diri, berperan lebih aktif dalam usaha pelestarian adat melayu kedepannya. Hal itu perlu dilakukan, sebagai salah satu penyaring modernisasi, seiring dibukanya keran MEA tahun 2016 mendatang
Lingga (Antara Kepri) - Pemerhati budaya melayu di Lingga menilai, keberadaan Lembaga Adat melayu (LAM) di daerah itu belum memenuhi perannya sebagai lembaga yang mampu melindungi keaslian budaya dan sejarahnya.
Muhammad Hasbi, seorang pemerhati budaya melayu, alumni Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Kamis mengatakan Sudah menjadi keharusan bagi Kabupaten Lingga, sebagai daerah pewarisi sejarah dan budaya kesultanan Melayu Riau-Lingga, memiliki sebuah lembaga adat yang berperan dalam usaha pelestarian keaslian budayanya.
Namun sejauh ini, pantauannya, meskipun ada sebuah lembaga adat di Lingga, keberadaan belum memenuhi peran tersebut.
"Kita tidak melihat peranan Lembaga Adat Melayu (LAM) di Lingga dalam usaha melestarikan keaslian budaya dan menegakkan norma adat istiadat melayu di Lingga," kata dia.
Dia mengamati, keberadaan LAM di Kabupaten Lingga hanya sekedar formalitas dalam memenuhi kelembagaan daerah. Tidak nampak ada suatu kegiatan atau gebrakan dalam usaha pelestarian adat dan kebudayaan melayu di tanah bekas pusat pemerintahan kesultanan melayu Riau-Lingga tersebut.
Bahkan, saat ini aktifitas kelembagaan tersebut melalui kegiatan kebudayaan tidak terlihat berjalan.
"Banyak hal yang kita nilai butuh peranan dari kelambagaan melayu itu, salah satunya LAM berperan dalam perumusan sejumlah Peraturan Daerah (Perda), agar sebuah produk hukum daerah tidak berseberangan degan norma adat istiadat melayu," katanya.
Selain itu, dilanjutkan Hasbi, LAM juga memiliki peran penting dalam misi pendidikan dan keagamaan. Khusus untuk pendidkan, LAM memiliki peran dalam menerapkan pelajaran sejarah kesultanan Riau-Lingga kepada pelajar.
"Banyak pelajar yang tidak mengetahui sejarah kesultanan melayu kita. Bahkan siapakah Sultan Mahmud Riayat Syah, yang di gadang-gadang sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tidak di ketahui banyak pelajar," tuturnya.
Seharusnya, tutur Hasbi, LAM mulai berbenah diri, berperan lebih aktif dalam usaha pelestarian adat melayu kedepannya. Hal itu perlu dilakukan, sebagai salah satu penyaring modernisasi, seiring dibukanya keran MEA tahun 2016 mendatang.
"Kita berharap LAM cepat berbenah diri. Menyadari sepenuhnya fungsi keberadaan lembaga tersebut. Kedepan tantangannya akan jauh lebih sulit. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik," tutupnya. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta : Ardhi
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
