
AISKI: Tanjungpinang Potensial jadi Penghasil Komoditas Perkebunan

Biji sengon ini saya tanam pada November 2014, dan lihat hasilnya, tanaman ini bisa tumbuh subur meskipun tidak diurus
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, diyakini dapat menjadi penghasil komoditas perkebunan meski tidak memiliki komoditas asli, kata Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Ady Indra Pawenari.
Ady di Tanjungpinang, Selasa, mengatakan, tidak ada alasan bagi pemerintah daerah mengeluhkan kendala anggaran atau kondisi geografis untuk mampu menjadi daerah penghasil komoditas tertentu.
Dia membuktikan dengan beragam kegiatan bercocok tanam. Salah satu tanaman yang ditanam adalah sengon di lahan tandus bekas bauksit seluas satu hektare di Dompak.
"Biji sengon ini saya tanam pada November 2014, dan lihat hasilnya, tanaman ini bisa tumbuh subur meskipun tidak diurus," kata Ady.
Lahan hijau sangon seluas 1 hektare yang dikelilingi lahan tandus belas bauksit tersebut membuktikan bahwa peluang Tanjungpinang menjadi daerah penghasil semakin besar.
Buah tin yang berasal dari Timur Tengah juga mampu tumbuh di ibu kota Provinsi Kepri itu. Buktinya, keberadaan tanaman yang disebut di dalam Al Quran tersebut juga tumbuh di halaman Kantor Gapensi Tanjungpinang yang beralamat di Pulau Dompak.
"Semua tanaman pangan, pohon, bahkan tanaman buah tin juga bisa tumbuh di Kota Tanjungpinang, dengan menggunakan media tanam coco peat," ujarnya.
Menurut peraih penghargaan di bidang Inovasi Teknologi 2015 dari MNC Group itu, keberhasilan coco peat sudah terbukti juga di lahan bekas batu bara di Kalimantan, bekas nikel di Sulawesi, termasuk bekas bauksit di Kota Tanjungpinang Kepri yang terkenal sulit untuk aktivitas bercocok tanam dan sulit air.
"Dengan menggunakan coco peat, lahan yang dulu tidak produktif, berubah menjadi lahan produktif," ujar Ady.
Coco peat yang berasal dari sabut kelapa itu dijual seharga Rp20.000 dan Rp35.000 per karung. Coco peat telah menembus pasar Eropa seperti Jerman, Belanda, dan Itali. Juga masuk pasar Asia seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok, serta masuk juga ke Kanada melalui pelabuhan ekspor Tanjung Priok.
Namun, teknologi coco peat yang sudah mendunia itu tidak mendapat tempat di hati Pemkot Tanjungpinang.
"Sebetulnya tak perlu ditawarkan lagi, karena Pemkot Tanjungpinang sudah mengetahui tentang coco peat yang kami gunakan ini," ujarnya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Niko Panama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
