Logo Header Antaranews Kepri

Pembebasan Lahan Interkoneksi Belum Rampung

Rabu, 2 Maret 2016 20:34 WIB
Image Print
Lokasi interkoneksi dari Tanjung Uban ke Sri Bintan, masih ada delapan titik lahan pembangunan tower yang tidak diketahui siapa pemiliknya

Tanjungpinang (Antara Kepri) - GM PLN cabang Tanjungpinang, Armunanto mengatakan pembangunan jaringan interkoneksi di Pulau Bintan masih mengalami beberapa kendala, di antaranya masalah pembebasan lahan, mulai dari Tanjung Uban sampai ke Sri Bintan.

"Oleh sebab itu, kami meminta warga bersedia membebaskan lahannya. Karena, kecepatan pembangunannya sangat tergantung dari kesediaan warga membebaskan lahannya," kata GM PLN area Tanjungpinang, Armunanto, Rabu.

Untuk jumlah lahan yang harus dibebaskan, Armunanto mengaku belum dapat informasi lengkap terkait perihal tersebut. Akan tetapi, di interkoneksi dari Tanjung Uban ke Sri Bintan, masih ada delapan titik lahan pembangunan tower yang tidak diketahui siapa pemiliknya.

"Sebenarnya, interkoneksi ini kewenangan Unit Induk Pembangunan 2 Medan. Kami PLN area hanya menggunakan, mengoperasikannya ke pelanggan," ucapnya.

Menurutnya meskipun masih satu bendera Perusahaan Listrik Negara (PLN), tapi memiliki kewenangan masing-masing. Seperti di Batam, meskipun ada lebih daya 180 MW tetap saja urusan PLN Batam, sama halnya urusan pembangunan transmisi yang berhak dijawab oleh Unit Induk Pembangunan 2 Medan.

"Cuma mereka kemarin menjanjikan bahwa interkoneksi sampai ke Tanjungpinang akan diselesaikan 2016 ini," tegasnya.

Melalui media, Armunanto juga mengimbau agar masyarakat bisa membantu PLN, terutama untuk mempercepat pembangunan tower interkoneksi Tanjung Kasam bisa sampai ke Tanjungpinang.

Di dalam coffee morning bersama Media di lantai 4 kantor PLN Tanjungpinang (2/3), Armunanto juga menamaparkan beberapa perihal pemadaman listrik yang terjadi beberapa hari terakhir di Tanjungpinang.

Seperti pemadaman yang tak terencana, di antaranya dipengaruhi oleh gangguan pohon, binatang, petir, dan cuaca, alam seperti tanah longsor. Serta, gangguan kerusakan jaringan yang terjadi secara tiba-tiba.

"Yang namanya pemadaman itu ada dua, satu pemadaman tak terencana, dan satu lagi pemadaman terencana seperti pemeliharaan pembangkit, pemeliharaan jaringan distribusi, dan defisit yang terjadi pada 2015 lalu," paparnya.

Menurut Armunanto, meskipun sistem kelistrikan pulau Bintan saat ini berdaya maksimal 70.000MW dengan beban puncak 58,500MW, dan surplus 12.100MW. Namun, perihal gangguan cuaca bisa mempengaruhi daya listrik tersebut.

Hal ini mengingat, antara jaringan saling berhubungan. Dan diibaratkan satu tubuh, sambung Armunanto, jika satu bagian yang sakit maka bagian lainnya turut merasakannya.

"Lagi pula, jaringan kelistrikan yang digunakan di Pulau Bintan, masih jaringan lama yang rentan terhadap pengaruh petir," tegasnya.

Dalam hal ini, PLN Tanjungpinang berusaha keras untuk segera mensosialisasikan jika terjadi pemadaman, baik terencana maupun tidak terencana.

Oleh sebab itu, Armunanto mengoptimalkan peran Humas PLN dan media melalui grup media sosial di line telpon 0822-8402-5724.

Jaringan komunasi tersebut diharapkannya mampu segera menginformasikan kepada masyarakat bila terjadi pemadaman.

Sementara, untuk support daya listrik ke industri, perhotelan atau pusat perbelanjaan. PLN meyatakan komitmennya untuk memutuskan langsung aliran listrik ke objek tersebut bila mendekati beban puncak.

"Kalau sewaktu waktu ada kerusakan, mereka lah yang akan kami padamkan lebih dulu, karena mereka termasuk pelanggan PLN yang mampu menggunakan genset sendiri," tegasnya.

PLN Tanjungpinang mengaku akan memprioritaskan masyarakat umum untuk menggunakan listrik negara, dari pada pelanggan yang tegolong mampu tersebut. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026