Logo Header Antaranews Kepri

BMKG Batam Pastikan Tidak Ada Panas Ekstrem

Sabtu, 19 Maret 2016 18:24 WIB
Image Print
Itu tidak benar dan menyesatkan. Ini fenomena rutin terjadi dua kali setahun pada 21 Maret dan 23 September. Sudah udara hanya akan naik satu maksimal dua derajat saja

Batam (Antara Kepri) - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Hang Nadim Batam menepis kabar yang banyak beredar mengenai akan terjadinya panas ekstrem di Kepri dampak dari fenomena equinox saat matahari tepat berada pada garis khatulistiwa.

"Itu tidak benar dan menyesatkan. Ini fenomena rutin terjadi dua kali setahun pada 21 Maret dan 23 September. Sudah udara hanya akan naik satu maksimal dua derajat saja," kata Kepala BNKG Hang Nadim Batam Philip Mustamu di Batam, Sabtu.

Philip mengatakan jika ada informasi atau pemberitaan kenaikan suhu udara bisa mencapai 40 derajat celsius di Kepri ataupun di Indonesia pada umumnya itu bohong belaka.

"Itu menyesatkan. Karena kalau sampai 40 derajat celsius bisa jadi banyak menimbulkan kematian. Bisa dipastikan itu tidak akan terjadi di Kepri,"kata dia.

Di Kepri khususnya Batam pada beberapa hari terakhir memang tidak terjadi hujan. Sehingga suhu udara terasa lebih panas dari biasanya khususnya pada tengah hari.

"Masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu itu. Suhu di Kepri hanya berkisar 32 sampai maksimal 33 derajat celsius saja. Bukan sampai 40 derajat celsius," kata dia.

Equinox ini berasal dari bahasa latin yang artinya malam yang sama panjang. Karena pada hari-hari tersebut siang dan malam hari memiliki panjang yang sama penjuru dunia manapun.

Untuk masyarakat yang tinggal di sekitar garis khatulistiwa seperti sebagian wilayah Indonesia, kata dia, kondisi siang dan malam yang sama panjang adalah hal biasa.

"Berbeda dengan mereka yang tinggal di daerah empat musim, keadaan tersebut sangat jarang terjadi. Jadi dianggap sesuatu yang luar biasa," kata Philip.

BMKG memperkirakan kondisi di Kepri khususnya Batam hingga beberapa hari ke depan masih akan minim terjadi hujan. Karena angin masih bertiup dari utara menuju selatan sehingga menggagalkan proses pembentukan awan awal dari terjadinya hujan.(Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026