
BPBL Batam sebut minat terhadap budidaya lobster modeling mulai meningkat

Batam (ANTARA) - Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menyebut minat masyarakat terhadap budidaya lobster dengan sistem modeling mulai meningkat seiring pengembangan teknologi budidaya yang dilakukan dalam dua tahun terakhir.
Kepala BPBL Batam Ipong Adi Guna mengatakan wilayah Kepri, terutama Batam memiliki kualitas perairan yang cukup baik untuk pengembangan budidaya lobster.
“Secara teknis, kualitas perairan di Kepri dan Batam cukup baik untuk kegiatan budidaya lobster. Hal ini sudah kami lakukan melalui pengembangan modeling budidaya lobster di BPBL Batam dan hasilnya berjalan baik,” ujarnya saat dihubungi di Batam, Sabtu.
Ia mengatakan hingga saat ini terdapat 13 pembudidaya lobster di wilayah kerja BPBL Batam yang meliputi Kepri, Riau, dan Sumatera Barat yang telah tercatat memiliki izin usaha dan terverifikasi.
Namun demikian, untuk usaha modeling budidaya lobster yang dimulai dari benih bening lobster (BBL) hingga ukuran konsumsi masih didominasi BPBL Batam karena teknologi tersebut tergolong baru diterapkan.
“Kegiatan modeling budidaya lobster ini baru berjalan sekitar dua tahun sehingga masyarakat masih banyak yang belum menerapkannya,” katanya.
Menurut Ipong, sejumlah masyarakat di Kepri dan Batam menjalankan usaha pembesaran lobster secara tradisional.
“Pembesaran lobster di masyarakat umumnya masih tradisional dengan menggunakan benih tangkapan alam, bukan dari BBL hasil modeling,” ujarnya.
Baca juga: Sapi kurban presiden untuk warga di pulau terluar
Ia menjelaskan permintaan lobster konsumsi di Batam dan sekitarnya cukup tinggi sehingga peluang usaha budidaya lobster masih terbuka lebar.
“Kalau usaha budidaya lobster terus ditingkatkan, peluang memenuhi kebutuhan pasar juga semakin besar,” katanya.
Terkait nilai ekonomi, Ipong menyebut harga BBL di tingkat nelayan penangkap berkisar Rp8.500 hingga Rp10 ribu per ekor.
“Di tingkat pengepul harga mencapai Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per ekor di luar biaya pengiriman. Untuk pasar luar negeri sebelumnya bisa berkisar Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per ekor,” ujarnya.
Namun sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2026, BBL hanya diperuntukkan untuk kegiatan budidaya di dalam negeri dan tidak diperbolehkan untuk ekspor.
Menurut Ipong, tingginya permintaan luar negeri terhadap BBL menjadi salah satu faktor maraknya penyelundupan benih lobster keluar negeri.
“Permintaan dari luar negeri sangat besar, sementara penangkapan BBL dibatasi kuota oleh pemerintah sehingga praktik penyelundupan masih sering terjadi,” katanya.
Sebelumnya, Polda Kepri telah menggagalkan penyelundupan 122 ribu ekor BBL yang akan dikirim keluar negeri dari Batam pada Rabu (21/5).
Ia menambahkan BPBL Batam terus melakukan pembinaan melalui sosialisasi teknologi budidaya lobster, konsultasi kepada masyarakat, serta koordinasi dengan dinas terkait untuk memperbarui data pembudidaya lobster di wilayah Kepri dan Batam.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPBL Batam sebut minat budidaya lobster modeling mulai meningkat
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026
