Membongkar Hilir Pemilihan Cawagub Kepri

id pendidikan,politik,nasional,membongkar, dalam,pemilihan,cawagub,kepri

Kami akan melihat perkembangan terakhir, kemudian menentukan langkah yang harus diambil
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Banyak pihak mulai menduga-duga hasil dari proses panjang pemilihan Calon Wakil Gubernur Kepulauan Riau, terutama setelah Isdianto ditetapkan sebagai satu-satunya kandidat yang akan dipilih oleh anggota legislatif.
         
Isdianto, adik kandung dari HM Sani (almarhum), mantan Gubernur Kepri, tampak senang ketika Ketua DPRD Kepri menetapkan dirinya sebagai cawagub masa jabatan 2016-2021. Isdianto bersalam-salaman dengan sejumlah anggota legislatif di ruang rapat paripurna DPRD Kepri, Rabu (22/11).
         
Namanya kian populer setelah mendaftarkan sebagai cawagub di sekretariat partai pengusung. Ia pun semakin percaya diri ketika seluruh partai pengusung merekomendasikan dirinya sebagai satu dari dua kandidat yang diusulkan gubernur.
         
Isdianto bertekad meninggalkan karir sebagai seorang birokrat pemerintahan yang sudah sekitar 30 tahun dijalaninya. Ia mempertaruhkan jabatannya sebagai pejabat Eselon II Pemprov Kepri setelah ditetapkan sebagai cawagub.
         
Saat ditetapkan sebagai cawagub, ia "mengunci" dirinya sendiri, dan bersiap diri berhadapan dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
        
"Saya bertekad mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Mudah-mudahan mendapat dukungan seluruh pihak," kata Isdianto penuh harapan beberapa waktu lalu.
        
Dalam beberapa bulan terakhir Isdianto mengeluarkan energi yang cukup besar. Ia sadar betul harus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk mendapatkan jabatan empuk tanpa bertarung saat pilkada. Karena itu, Isdianto tidak berdiam diri, meski Partai Demokrat, PKB, PPP, Partai Gerindra dan Partai Nasdem mendukungnya. 

Ia bermanuver untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk lawan politik dari HM Sani-Nurdin Basirun (SANUR) pada Pilkada Kepri 2015. Upaya itu dilakukan untuk mendapatkan dukungan suara pada pemilihan cawagub di DPRD Kepri, yang mayoritas anggota legislatifnya berasal dari partai pengusung lawan politik SANUR. Secara politik komposisi 45 anggota DPRD Kepri terdiri dari 17 orang dari partai pengusung SANUR dan sisanya pendukung Soerya-Ansar (SAH).
        
Pertemuan demi pertemuan pun dilakukan dengan berbagai pihak mulai dari Gubernur Nurdin Basirun, politisi dari partai pengusung SANUR, tokoh masyarakat hingga jurnalis.
        
Apakah Isdianto akan berhasil mendapat jabatan yang diidampakannya itu atau malah mungkin gagal di tengah jalan?
  
Pendidikan Politik
    
Drama dari perjalanan politik agar Kepri memiliki wagub menarik untuk disimak. Dinamika politik yang begitu cepat berubah menggiring banyak pihak yang mengikuti kisah bersejarah ini menebak-nebak ujung dari drama ini.
        
"Proses pemilihan Wagub Kepri dari awal hingga sekarang, paling tidak memberi pendidikan politik bagi masyarakat," kata Sekretaris DPD Partai Demokrat Kepri, Husnizar Hood.
         
Tetapi banyak pula politisi dan kalangan pemerintahan yang menganggap drama politik cawagub sebagai pendidikan politik bukan hanya di tingkat lokal, melainkan nasional, meski sutradara dalam cerita ini masih malu-malu menampakkan diri.
         
Suhu politik mulai berubah dimulai dari kisah dari perjalanan politik yang dilalui Agus Wibowo, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bintan yang "dipaksa" Partai Demokrat untuk menjadi bakal cawagub. Kisah Agus yang nyaris masuk perangkap juga menarik perhatian publik. 

Agus yang nyaris tidak pernah berkomentar di media massa sejak diusulkan Gubernur Nurdin sebagai bakal cawagub, namun sepopuler Isdianto. Berita tentang Agus yang menghiasi media massa lokal dan nasional lebih banyak disampaikan oleh Panitia Pemilih Wagub Kepri dan sejumlah pengurus Partai Demokrat.
         
Mimpi Agus untuk menjadi lawan politik Isdianto saat pemilihan Wagub Kepri kandas di tengah jalan. Agus nyaris kehilangan jabatannya di DPRD Bintan jika bersikeras melawan gelombang politik dalam tahapan penyerahan berkas persyaratan pencalonan.
          
Dewi Fortuna menyelamatkannya. Agus tergolong cerdas mengatur nafsu politik sehingga tidak hanyut dibawa gelombang yang justru mendamparkan dirinya pada posisi yang terjepit.
         
Apa yang dilakukannya? Beberapa hari menjelang batas akhir penyerahan berkas persyaratan pencalonan, Agus mengajukan surat pengunduran diri sebagai bakal cawagub kepada DPP Partai Demokrat.
         
Hal itu dilakukannya karena hingga batas akhir penyerahan berkas pencalonan belum berhasil mendapat rekomendasi dari empat partai pengusung lainnya yakni Partai Gerindra, PKB, PPP dan Partai Nasdem.

Dia selamat mempertahankan jabatannya sebagai Wakil Ketua DPRD Bintan meski digugurkan sebagai bakal cawagub. Tetapi Agus terpaksa melepas jabatannya sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Bintan, yang kini dipimpin Zulkifli.
         
Setelah Agus siapa lagi yang akan menyusul? Partai Demokrat pasrah, tidak akan mencari pengganti Agus. Demokrat mengambil sikap mendukung siapa kandidat yang paling banyak didukung partai pengusung sebagai bakal cawagub.
         
H-1 penetapan Cawagub Kepri, drama pemilihan memasuki babak baru. Sang sutradara memainkan skenario lanjutan. Nama Mustafa Widjaja yang tidak pernah dipikirkan publik akan serius mengikuti pemilihan wagub ini, tiba-tiba muncul.
         
Mustafa, mantan Ketua Otorita Batam (sekarang Badan Pengusahaan Batam) memang sejak awal sudah didukung oleh PPP dan PKB, namun berbagai pihak kurang yakin ia dapat bertarung melawan Isdianto karena Gubernur Nurdin yang juga Ketua DPW Partai Nasdem menginginkan Rini Fitrianti, putri sulung dari HM Sani. Mustafa pun dikabarkan kurang dekat dengan dunia politik.
         
"Dalam beberapa kali pertemuan, gubernur inginkan Rini sebavai cawagub. Gubernur ingin pendampingnya tidak mengganggu pemerintahan dan dirinya. Ini bisa jadi pertarung antara paman (Isdianto) dengan keponakan," kata Ketua DPW PPP Kepri Syarapudin Aluan.
         
Namun pada Rabu (22/11) bertepatan dengan rapat paripurna laporan penetapan cawagub, suasana politik menjadi sedikit memanas. Di depan ruang Ketua Komisi II DPRD Kepri Hotman Hutapea, sejumlah politisi menyebutkan Mustafa Widjaja mengantongi dukungan dari Partai Demokrat, selain dari PPP dan PKB.
         
"Macam mana lagi, Mustafa datang sendiri ke pengurus DPP Demokrat. Dapat dukungan," kata Hotman, yang juga Ketua Panitia Pemilih Wagub Kepri.
         
Dinamika politik dalam rapat paripurna laporan penetapan cawagub pun terjadi. Syarapudin Aluan dari PPP dan Sirajudin Nur dari PKB bersikeras agar penetapan cawagub tidak hanya satu orang, melainkan harus orang sesuai UU Nomor 23/2014. Anggota DPRD Kepri dari Demokrat cenderung memilih diam.
        
Sementara anggota DPRD Kepri dari Partai Amanat Nasional, Alex menegaskan Mustafa Widjaja tidak dapat ditetapkan sebagai cawagub karena persyaratan pencalonan belum diverifikasi panitia pemilih.

"Tidak boleh diperlakukan berbeda dengan kandidat yang lain," kata Alex.
          
Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak akhirnya memutuskan hanya Isdianto yang memenuhi persyaratan sebagai cawagub. Isdianto ditetapkan sebagai cawagub, sedangkan nafas harapan Mustafa untuk diusulkan gubernur sebagai cawagub tergantung pada panitia pemilih.
         
Mustafa sampai saat ini belum berhasil mengantongi rekomendasi sebagai cawagub dari Nasdem dan Gerindra.
        
Sekretaris DPW Partai Gerindra Kepri Onward Siahaan menegaskan pihaknya akan memperjuangan Fauzi Bahar sebagai cawagub secara maksimal.
         
"Kami akan melihat perkembangan terakhir, kemudian menentukan langkah yang harus diambil," ujarnya.
         
Berbagai pihak berpendapat, Mustafa juga kandas di tengah jalan karena tidak mendapat rekomendasi dari Partai Nasdem dan Gerindra.
         
Isdianto pun tersenyum bahagia setelah ditetapkan sebagai cawagub tunggal. Apalagi panitia pemilih yang mendapat restu dari DPRD Kepri tetap akan melanjutkan proses pemilihan meskipun hanya ada satu cawagub.
         
"Kami sudah melaksanakan tahapan demi tahapan, memberi kesempatan hingga tiga kali kepada gubernur untuk mengusulkan satu nama cawagub (pengganti Agus Wibowo) kepada panitia pemilih. Kami juga sudah mendapatkan pendapat pakar hukum, maka proses pemilihan jalan terus, meski hanya satu calon," ujar Ketua Panitia Pemilih Wagub Kepri, Hotman.
        
Dia menyatakan berdasarkan hasil rapat di DPRD Kepri, tahapan pemilihan tidak akan dilaporkan lagi ke Kemendagri. Alasannya, panitia pemilih sudah sekitar lima kali melakukan koordinasi dengan pihak Kemendagri.
         
Berdasarkan informasi yang diperoleh Antara, dalam pertemuan itu, Kemendagri berulang kali menegaskan cawagub yang direkomendasikan partai pengusung, dan dipilih anggota DPRD Kepri harus dua orang.
         
Namun pertanyaaannya, apakah DPRD Kepri berani melaksanakan proses pemilihan, meski Isdianto hanya melawan kotak kosong? Sinyal keberanian DPRD Kepri itu juga tampak ketika Jumaga Nadeak berulang kali menegaskan Kepri butuh wagub, dan tahapan yang dilaksanakan panitia pemilih sesuai mekanisme yang berlaku.
        
Seandainya, proses pemilihan tetap dilakukan, dan Isdianto ditetapkan sebagai cawagub berdasarkan hasil pemilihan di DPRD Kepri, apakah Mendagri menyetujuinya? Apakah Mahkamah Konstitusi menyetujui proses pemilihan menabrak UU Pemda? Apakah Isdianto dilantik sebagai wagub?
   
Jika tidak, maka nasib Isdianto lebih parah dibanding Agus Wibowo dan Mustafa Widjaja, karena energi yang dikeluarkan selama ini sangat besar hingga melepas jabatan sebagai pejabat Eselon II Pemprov Kepri.
        
Lantas siapa calon yang tersisa? Dua nama yang tersisa yakni Fauzi Bahar dan Rini Fitrianti. Fauzi Bahar merupakan mantan Wali Kota Padang, sedangkan Rini, putri sulung dari HM Sani (almarhum), mantan Gubernur Kepri. Fauzi diprediksi berbagai pihak akan bernasib sama seperti Agus Wibowo atau Mustafa Widjaja, karena hanya direkomendasikan PPP dan Partai Gerindra.

Sedangkan Rini, kandidat mahkota yang sengaja "disembunyikan" saat pertarungan politik dimulai akan melaju hingga akhir skenario drama ini. Ketika partai pengusung selain Nasdem kehabisan peluru, karena tidak boleh merekomendasikan nama yang sama, yang telah digugurkan, kemungkinan akan lahir kandidat boneka.

Duduk Bersama

Banyak pihak meragukan pemilihan Wagub Kepri berlangsung cepat. Pemilihan Wagub Kepri berlarut-larut lantaran sampai sekarang partai pengusung belum sepakat menetapkan satu kandidat pengganti Agus Wibowo.
         
Pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Bismar Arianto mengatakan, persoalan pemilihan cawagub ini berada di partai pengusung bukan DPRD Kepri.
         
"Pengurus partai pengusung harus duduk bersama, menetapkan siapa cawagub dengan mengedepankan kepentingan masyarakat. Seharusnya ini mudah diputuskan jika seluruh pengurus partai pengusung mengedepankan kepentingan masyarakat," ujarnya.
         
Partai pengusung terdiri dari Partai Demokrat, Partai Gerindra, PKB, PPP dan Partai Nasdem. Partai Nasdem Kepri dipimpin oleh Nurdin Basirun yang juga Gubernur Kepri.    
    
Bismar mengemukakan dari perkembangan tahapan pemilihan cawagub tampak jelas bahwa "bola" ada di tangan partai pengusung. Seharusnya, pengurus partai pengusung lebih mudah berdiskusi, dan kemudian menetapkan satu orang bakal cawagub karena pernah sama-sama berjuang memenangkan HM Sani (almarhum)-Nurdin Basirun pada Pilkada Kepri tahun 2015.
         
"Pemilihan wagub ini amanah konstitusi, jadi harus segera direalisasikan. Kehadiran wagub akan memperkuat pemerintahan," katanya.
         
Sementara itu Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak mengatakan pihaknya sudah berulang kali menegaskan dalam rapat rapat paripurna maupun dalam pertemuan lainnya agar Kepri harus segera memiliki wagub.
         
"Kami berupaya maksimal agar Kepri segera memiliki wagub, namun sampai sekarang baru Isdianto yang memenuhi persyaratan sebagai cawagub," katanya.
         
DPRD Kepri belum dapat menindaklanjuti surat dukungan Partai Demokrat, PKB dan PPP terhadap Mustafa Widjaja karena sampai sekarang Gubernur Nurdin Basirun belum menyerahkan surat dukungan terhadap mantan Ketua Otorita Batam (sekarang Badan Pengusahaan Batam) tersebut.
         
"Bagaimana saya bisa meminta panitia pemilih memverifikasi persyaratan Mustafa kalau sampai sekarang belum ada surat usulan dari gubernur. Gubernur itu diberi kewenangan mengusulkan nama cawagub berdasarkan rekomendasi partai pengusung," ucapnya.(Antara)

Editor: Dedi
Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar