Nyimas Novi Ujiani, pejuang kesetaraan gender dari Karimun

id Nyimas Novi Ujiani,kesetaraaan gender,Ketua DPC PKB Karimun,anggota DPRD Karimun,Muslimat NU,Sinar Bangsa

Nyimas Novi Ujiani (Antaranews Kepri/Rusdianto)

Perempuan jangan jadi pengekor, tapi jadilah pelopor
KARIER politik perempuan berjilbab bernama Nyimas Novi Ujiani ini terbilang cemerlang. Selain terpilih sebagai anggota DPRD Karimun pada Pemilu 2014, dia juga sukses menjadi pimpinan partai politik dari kaum perempuan yang pertama di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

Nyimas Novi Ujiani bergelar S.Ikom, M.Ikom itu adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Karimun, sekaligus Ketua Fraksi PKB DPRD Karimun.

Sebagai anggota legislatif, wanita kelahiran Kampung Laut, Jambi, 20 November 1976 itu, layak disebut sebagai pejuang pembela hak-hak kaum perempuan di parlemen.

Novi, begitu dia biasa disapa, dikenal vokal menyuarakan kesetaraan gender di gedung wakil rakyat.

Ia juga merupakan satu dari tiga wakil rakyat perempuan yang memperjuangkan penyusunan tiga peraturan daerah (Perda), pertama, Perda tentang Pengarusutamaan Gender dan dia terpilih sebagai ketua pansusnya. Kedua, Perda tentang Pendidikan dan dia terpilih sebagai wakil ketua pansusnya.

"Dua perda itu disusun dan disahkan pada tahun pertama saya duduk di DPRD Karimun. Dan sekarang, sedang disusun pula Perda tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang merupakan perda inisiatif dewan," tuturnya.

Pada tahun pertama terpilih sebagai anggota dewan, Novi juga memperjuangkan berdirinya sebuah sekolah untuk pengentasan buta huruf di kalangan Suku Asli di Teluk Setimbul, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat.

Dia menyebutkan tiga perda itu sangat penting dalam kaitan mengangkat derajat kaum perempuan daerah pesisir.

Novi mengatakan perjuangan membela kaum perempuan di parlemen merupakan janji-janji politiknya kepada para konstituen yang mayoritas memang kaum perempuan.

Novi mengaku prihatin dengan kaum perempuan yang belum mendapat kesempatan setara kaum laki-laki. Masih banyak kaum perempuan yang belum menduduki posisi-posisi strategis, dan belum banyak perempuan yang serius berkecimpung di dunia politik.

"Termasuk saya, awalnya tidak ada niatan untuk duduk di legislatif. Pada Pemilu 2009, saya memang maju sebagai caleg, tapi sekadar memenuhi kuota perempuan dalam pencalonan," kata dia.

Namun, pada Pemilu 2014, Novi mulai serius menjadi caleg dari daerah pemilihan Meral, Meral Barat dan Tebing. Novi ingin menjadi bagian dari penentu kebijakan, khususnya mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.

Kini, Novi mengaku sedang memperjuangkan penganggaran sarana prasarana Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), seperti pembangunan shelter atau tempat penampungan perempuan dan anak.

"Masalah penganggaran menjadi fokus kami di legislatif, agar lebih berpihak pada kaum perempuan," kata dia.

Aktivis Perempuan

Novi juga dikenal sebagai seorang aktivis. Dia aktif di kegiatan majelis taklim melalui Badan Kontak Majelis Taklim. Novi juga merupakan Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama yang terpilih untuk kedua kalinya.

Pada 2018, dia juga terpilih sebagai Ketua Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Karimun, dan aktif pada organisasi perempuan Alisa Katijah/ICMI serta Ketua Alumni Mahasiswa Universitas Karimun.

Selain itu, dia juga aktif dalam kegiatan sosial dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Sinar Bangsa, mengajar kaum perempuan suku Asli, Teluk Setimbul, Meral Barat, belajar membaca.

PKBM Sinar Bangsa didirikan pada 2005 yang berpusat di Jelutung, Meral Barat. Melalui PKBM ini, Novi merangkul kaum perempuan Suku Asli yang buta huruf agar belajar membaca.

"Tidak mudah untuk melakukan pendekatan, butuh beberapa kali berkunjung ke Teluk Setimbul mengajak mereka untuk belajar. Upaya yang dilakukan adalah pendekatan kemanusiaan, terlepas dari masalah akidah dan kepercayaan yang berbeda-beda," kata dia.

Awalnya, sekitar 375 perempuan yang mayoritas suku Asli ikut belajar membaca dengan durasi pertemuan 3 kali 6 bulan. Namun, dalam perjalanannya jumlah warga belajar yang tersisa hanya sekitar 40-an orang saja.

Banyak perempuan suku Asli berhenti belajar karena masalah waktu dan pekerjaan sebagai nelayan meski animo untuk belajar cukup tinggi.

"Mengajar perempuan suku Asli harus sabar, kita yang harus mengikuti jadwal mereka. Kalau mereka punya waktu siang, maka kita adakan siang. Kalau malam, ya malam, walaupun hanya diterangi lampu pelita karena waktu itu listrik belum masuk di Teluk Setimbul," tuturnya.

Sebagai seorang aktivis, Novi mengaku tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan, istri dan ibu dari tujuh anak-anaknya. Dia mengaku telah membangun komitmen dengan suami agar saling memahami tugas, pokok dan fungsi masing-masing.

"Anak-anak juga sangat memahami karena durasi saya berada di luar rumah memang lebih banyak," kata istri Sabari Basirun, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Karimun ini.

Jadi Pelopor

Nyimas Novi Ujiani mengatakan untuk mewujudkan kesetaraan gender, kaum perempuan di Karimun harus berani mengambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan pembangunan.

"Kalau mau berkiprah jangan setengah-setengah. Perempuan jangan jadi pengekor, tapi jadilah pelopor," kata dia.

Momentum Hari Kartini merupakan pendorong bagi kaum perempuan untuk ikut berkiprah dalam pembangunan.

Sekarang, kata Novi, sudah banyak perempuan yang menduduki posisi strategis di pemerintahan, seperti camat, pimpinan organisasi perangkat daerah dan lainnya.

Pemerintah juga diharapkan tidak sekadar retorika atau seremoni mengangkat kesetaraan gender, dengan memperkuat program pemberdayaan perempuan dengan anggaran yang lebih banyak.

Novi juga mengajak kaum perempuan agar ikut berkecimpung di dunia politik. Dia mengakui dalam Pemilu yang lalu, partai politik kesulitan mencari caleg perempuan untuk memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan.

"Namun sekarang sudah banyak wajah-wajah baru yang cukup bersuara. Suatu kemajuan yang luar biasa, sehingga caleg perempuan tidak didominasi itu-itu saja," kata dia.

Namun demikian, kaum perempuan tidak boleh melupakan kodratnya mengurus rumah tangga. Kaum perempuan harus tetap mengutamakan kewajibannya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.
Pewarta :
Editor: Kabiro kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar