Logo Header Antaranews Kepri

Airnav gunakan frekuensi cadangan percepat pelayanan

Senin, 3 September 2018 18:56 WIB
Image Print
GM Airnav cabang Kota Batam, Mi'wan Muhammad Bunay. (ANTARA News Kepri/Pradanna Putra).
Ia mengatakan, sejauh ini kualitas komunikasi penerbangan di Airnav cabang Kota Batam cukup bagus dan tidak ada masalah.

Batam (Antaranews Kepri) - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) harus memiliki frekuensi cadangan untuk mempercepat layanan apabila terjadi gangguan khususnya dari pemancar radio.

General Manager Airnav cabang Batam, Mi'wan Muhammad Bunay, di Batam, Senin, mengatakan frekuensi cadangan sangat diperlukan untuk menjaga komunikasi antara petugas Air Traffic Controller (ATC) dengan pilot agar dapat mencengah insiden yang tidak diinginkan.

"Biasanya frekuensi yang menganggu itu berasal dari radio amatir, tapi terkadang ada juga dari radio resmi karena bermasalah di pemancar mereka," kata dia.

Ia mengatakan, sejauh ini kualitas komunikasi penerbangan di Airnav cabang Kota Batam cukup bagus dan tidak ada masalah. Namun pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan Balai Monitoring (Balmon) apabila terjadi gangguan frekuensi agar permasalahan tersebut dapat segera diatasi.

"Jadi kalau ada masalah, kita langsung kirim surat resmi ke balai monitoring dan mereka langsung melakukan investigasi permasalahannya di mana," ucapnya.

Ia menambahkan, cadangan frekuensi menjadi hal wajib yang dimiliki Ainarv Indonesia. Karena hal tersebut menyangkut keselamatan para penumpang dan awak maskapai penerbangan.

"Jadi apabila ada gangguang frekuensi, sambil ditangani kita sudah bisa melayani lagi dengan secondary frekuensi, karena komunikasi kita dengan pilot tidak boleh putus," paparnya.

Namun sebelum digunakan, pihaknya wajib memberikan informasi kepada seluruh maskapai penerbangan dalam bentuk notice to airmen (Notam).

"Kita harus menyampaikan bahwasannya kita menggunakan secondary frekuensi karena ada gangguan," kata Mi'wan.

Selain itu kata Mi'wan, Airnav cabang Kota Batam bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui data terbaru terkait cuaca.

Hal itu sangat diperlukan karena Provinsi Kepri khususnya Kota Batam termasuk dalam salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cuaca ekstrim. Bahkan BMKG Kelas I Hang Nadim Batam memiliki akses khusus untuk memberikan informasi terkait keadaan cuaca.

"Maksudnya begini, Batam tidak memiliki musim, beda dengan wilayah lain yang fase musim hujan dan kemaraunya sudah jelas, sementara di sini kapan pun bisa hujan," ujarnya.

Karena cuaca yang kerap berubah-ubah, pihaknya harus menunggu informasi resmi dari BMKG sebelum mengeluarkan notam.

"Yang sering terjadi itu karena proses permohonan notam membutuh waktu dan saat notam datang cuaca sudah bagus atau normal," katanya.

Hal lain yang sangat diperhatikan Airnav cabang Kota Batam adalah angin.

Terutama angin yang datang dari arah samping dan sangat dikhawatirkan membahayakan pesawat ketika akan mendarat.

"Biasanya pilot pasti akan memilih terbang lagi kalau ada angin dari arah samping karena resikonya besar. Tapi secara umum di Batam cukup aman karena runwaynya cukup panjang dan bagus," jelasnya.(Antara)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026