Logo Header Antaranews Kepri

Tujuh PMA di Batam gulur tikar

Sabtu, 15 September 2018 09:42 WIB
Image Print
Direktur PTSP BP Batam Ady Soegiharto. (Antaranews Kepri/Ist)
formulasi yang paling efektif adalah dengan menahan sebagian modal dari perusahaan tersebut di perbankan.

Batam (Antaranews Kepri) - Terhitung sejak Januari hingga Juni 2018 tercatat tujuh Penanam Modal Asing (PMA) yang gulung tikar di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau, dikarenakan tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain dan kurangnya orderan.

Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengusahaan Batam, Ady Soegiharto, di Batam, Jumat (14/9), mengatakan empat dari tujuh perusahaan tersebut sudah menyampaikan keinginannya untuk menutup usahanya.

"Empat sudah mengajukan ke kita tapi saya tidak bisa menyebutkan nama-namanya, nah tiga lagi yang kemarin tidak ada pemberitahuan," katanya.

Tiga perusahaan asing tersebut kata Adi yaitu PT Hantong, PT Artana dan yang terbaru PT Nagano.

Ady mengatakan total investasi dari keempat PMA yang mengajukan penutupan perusahaannya total investasinya mencapai USD7,4 juta.

"Rata-rata PMA itu bergerak dibidang perdagangan," kata dia.

Ia mengatakan, pihaknya bersama Himpunan Kawasan Industri (HKI) sedang menyusun formulasi agar nantinya tidak ada lagi PMA yang kabur karena terkendala financial.

"Itu kita lakukan untuk memberikan perlindungan kepada para karyawan dan kita akan lihat dari Undang-Undang serta Peraturan Pemerintah (PP)," kata Ady.

Ady mengatakan, formulasi yang paling efektif adalah dengan menahan sebagian modal dari perusahaan tersebut di perbankan.

Namun lanjut dia, hal itu tidak bisa dilakukan karena dapat melunturkan niat investor asing untuk menanamkan modalnya di Kota Batam.

"Untuk permasalahan PT Hantong kemarin sudah selesai, sekarang kita fokus menyelesaikan masalah PT Nagano dan kita sudah mengirimkan surat ke manajemen Nagano melalui KBRI di Jepang," katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam, Rudi Syakyakirti meminta manajemen perusahaan asing terbuka terkait keadaan finansial untuk meminimalisir kaburnya pemilik perusahaan ke negara asalnya.

"Saran saya bagi manajemen perusahaan asing, kalau ada masalah langsung konsultasi dengan Disnaker jangan tertutup," katanya.(Antara)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026