900 orang kehilangan pekerjaan di Kota Batam

id phk batam,pekerja batam,penutupan perusahaan batam

900 orang kehilangan pekerjaan di Kota Batam

Arsip Foto. Pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Batam berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Batam, Kepulauan Riau. (ANTARA /M N Kanwa)

Batam (ANTARA) - Sepanjang semester I-2019 ada sedikitnya 900 orang yang kehilangan pekerjaan akibat ditutupnya 27 perusahaan di Kota Batam, Kepulauan Riau, menurut Dinas Tenaga Kerja setempat.

"Total dari awal tahun sampai Juni 2019 ada 27 perusahaan tutup, sekitar 900 orang kehilangan pekerjaan," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudi Sakyakirti pada Senin, usai pembukaan program magang di Jepang.

Data itu, menurut dia, belum mencakup dampak rencana penutupan PT Foster Elektronik Indonesia dan PT Unisem. Dua perusahaan dengan jumlah pekerja 1.000 orang lebih itu dikabarkan akan tutup tahun ini dan tahun depan.

"Foster belum termasuk, karena laporannya belum disampaikan ke kami," kata dia.

Kendati demikian, menurut Rudi, jumlah pemutusan hubungan kerja akibat penutupan perusahaan dalam tahun ini kemungkinan lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data Dinas Tenaga Kerja, tahun 2018 ada 60 perusahaan yang tutup dan mengakibatkan ribuan orang kehilangan pekerjaan.

Ia menjelaskan pula bahwa selain ada perusahaan yang berhenti operasi, ada banyak perusahaan baru yang menanam modal dan mengembangkan usaha di Batam tahun ini. Satu di antaranya PT Pegatron di Kawasan Industri Batamindo.

"Perusahaan yang tutup banyak, yang buka juga banyak," kata dia.

PT Pegatron sudah melapor ke Dinas Tenaga Kerja bahwa akan menerima 300 tenaga kerja baru  sambil menunggu datangnya peralatan. Hingga akhir tahun ini, perusahaan membutuhkan 800 orang tenaga kerja lagi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid membenarkan bahwa meski perusahaan yang tutup cukup banyak, namun banyak pula usaha-usaha baru yang dibuka di kota yang berseberangan dengan Singapura itu.

Menurut dia, alasan perusahaan menghentikan operasi antara lain upah pekerja di Batam yang sudah tidak lagi kompetitif lagi jika dibandingkan dengan Asia lain seperti Myanmar.
 
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar