Budayawan di Batam Sosialisasikan COVID-19 dengan pantun

id pesan ibu, ingat pesan ibu,sosialisasi protokol kesehatan

Budayawan di Batam Sosialisasikan COVID-19 dengan pantun

Dua budayawan Raja Muhammad Zein dan Kasmuri berbalas pantun dalam menyampaikan pesan ibu, agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, dalam Bunga Rampai Seni Melayu di Batam, Kamis.

Batam (ANTARA) - "Pagi hari ke kuala selat, hendak ke hulu menebar jala. Jangan kita bersalam dan berakad, ikuti protokol kesehatan, sekarang musim corona".

Demikian sepotong pantun yang disampaikan budayawan Raja Muhammad Zein, dalam Bunga Rampai Seni Melayu, sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat dalam tayangan virtual di Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis malam.

Bunga Rampai Seni Melayu dihelat Kementerian Komunikasi Informatika bekerja sama Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dan Pemerintah Kota Batam.

Pemerintah percaya, berbagai upaya harus dilakukan dalam rangka sosialisasi bahaya dan upaya penanganan COVID-19, termasuk memasukkan pesan-pesan melalui seni dan budaya.

Pada kegatan Bunga Rampai Seni Melayu, dua budayawan Raja Muhammad Zein dan Kasmuri didapuk menyampaikan pesan itu melalui bahasa yang santun dan santai, agar pesan lebih cepat sampai dan mudah diterima oleh masyarakat.

"Kalau tuan ke rumah Ncik Nona, perginya pula pukul 10. Karena sekarang musim corona, kita bersalam dari jauh".

Ya, salah satu protokol kesehatan yang harus dipatuhi masyarakat adalah menghindari bersalaman, karena virus dapat berpindah melalui tangan yang bersentuhan.

Karenanya, meski bersalaman dan mencium tangan orang tua merupakan hal yang biasa dilakukan masyarakat Melayu, maka pada saat pandemi COVID-19, mesti dihindari.

Namun, apa itu corona dan COVID-19 yang belakangan ini selalu ramai diperbincangkan masyarakat?

"Kalau Tuan ke Tanjungbatu, singgah sebentar di rumah Ncik Raus. Kalau tuan hendak tahu, corona bentuknya sejenis virus," begitu penjelasan santai Kasmuri.

"Nak memetik sebiji gajus, hendak dimakan bersama-sama. Kalau corona seperti virus, tak dapat dilihat tak dapat dirasa," lanjut Zein.

Begitulah virus. Sulit dilihat oleh mata telanjang, namun kehadirannya dirasa bisa merusak kesehatan tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Lalu, dari mana asalnya virus ini datang?

"Sungguh sedap si buah kana, dimakan pula bersama-sama. Dengar-dengar virus ini dari Wuhan, Negara China, sudah merebak ke seluruh dunia," kata Kasmuri.

Karena sudah mewabah ke penjuru negeri, tentu kita harus bersiap diri agar tidak terpapar. Selain menghindari bersalaman, masyarakat juga harus selalu menerapkan 3M, yakni mengenakan masker, mencuci tangan dengan bersih dan menjaga jarak.

"Bunga melati harum mewangi, mekar berserak bunga mentimun. Kalau dunia sudah musim corona, ke sana ke sini kita wajib pakai masker, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun," begitu tipsnya, seperti disampaikan oleh Kasmuri.

Anak kecik memakai bedak, bedak ditaruh di bawah pipi. Karena corona sudah merebak, masyarakat harus berhati-hati.

Selain 3M, yang harus dilakukan agar tidak terpapar virus corona adalah tetap di rumah saja. Jangan ke luar rumah apabila tidak ada hal yang penting.

"Pagi hari menuai padi, padi dituai oleh Pak Dolah. Kalau sudah berhati-hati, kalau tak perlu jangan ke luar rumah.," kata Kasmuri, memberi nasihat.

Kemudian, Zein membalas dengan, "Kalau hendak menebang pelepah, hinggap pula si burung pincit. Mengapa kita harus banyak berdiam di rumah, supaya corona tidak menjangkit."

Nasihat demi nasihat dan pesan ibu untuk menghindari COVID-19 disampaikan kedua budayawan dengan cara yang apik dan relatif mudah diterima masyarakat Melayu di Kepri.

Satu kayuh dua pulau terlampaui. Begitulah, dalam satu kegiatan dua maksud tersampaikan, yaitu sosialisasi COVID-19 dan melestarikan budaya pantun.

"Salih mengangkut di kuale selat, karena hendak pergi menjala. Boleh kita ikut budaya barat, tapi kepandaian budaya sendiri jangan lupa. Padat tembaga jangan dituang, kalau dituang melepuh jari. Adat budaya jangan dibuang, kalau dibuang rusaklah negeri," begitu pantunnya.

Dalam kesempatan itu, Pjs Wali Kota Batam Syamsul Bahrum mengajak masyarakat terus berjuang melawan COVID-19 serta terus berproduktif, agar ekonomi tidak melemah.

Dan agar terhindar dari paparan virus corona, ia mengajak masyarakat agar tidak lupa bermunajat kepada Tuhan.

"Raja Alim raja disembah, Raja Lalim raja disanggah. Mari kita berdoa semoga Kepri dan Batam mampu menangani wabah, semua karena usaha dan rahmat dari Allah," kata Syamsul, juga berpantun.

Pjs Wali Kota Batam juga mengajak masyarakat terus bersyukur, karena masih bisa beraktivitas dan produktif di masa pandemi.

"Jujur bertutur, bijak bertindak. Negeri bersauhkan amanah dan berpancangkan marwah. Kita bersyukur Tuhan berkehendak. Semoga pandemi tidak menjadi wabah di negeri yang bertuah," katanya, melanjutkan.

Ia berharap, masyarakat lebih dapat memahami pentingnya pesan ibu untuk mencegah penularan COVID-19, melalui sosialisasi dengan pantun.

Apalagi, pantun menjadi budaya yang masih digemari dan dipraktikan dalam kehidupan masyarakat, hingga saat ini.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi menyampaikan pesan ibu, agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, dalam Bunga Rampai Seni Melayu di Batam, Kamis.


Masih di acara yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi mengingatkan masyarakat untuk ingat pesan ibu, yaitu menjaga jarak, memakai masker dan menjaga kebersihan tangan.

Didi yang juga Panglima Sambang Hulubalang Junjung Negeri Kepri itu percaya kalau pesan ibu dilaksanakan dengan baik, maka pandemi akan bisa tertangani.

"Insya Allah tugas tim kesehatan menjadi tidak berat," kata dia.

Menurut dia, penularan COVID-19 di Batam terus berkurang pada sepekan terakhir, setelah sempat meningkat beberapa pekan lalu. Meski begitu, masyarakat diingatkan untuk tetap displin menjalankan protokol kesehatan.

"Kita harap masyarakat patuh dengan pesan bunda agar pandemi bisa segera terlewati," kata dia.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, dari pusat hingga ke daerah, itu yang terus mengingatkan akan bahaya COVID-19 agar dipatuhi oleh masyarakat. Masyarakat hendaknya tidak abai dengan protokol kesehatan, meskipun kasus penyebaran COVID-19 tidak lagi seperti saat awal-awal kasus itu ditemukan di Indonesia. Pikiran tenang harus tetap dijaga, namun bukan berarti kita abai pada semua anjuran dari pemerintah yang disampaikan lewat berbagai saluran, termasuk melalui pantun.
Pewarta :
Editor: Nurjali
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar