Dinkes Kepri ingatkan warga mengenai peningkatan kasus diabetes
Rabu, 15 November 2023 17:43 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Mochammad Bisri. (ANTARA/Ogen)
Tanjungpinang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengingatkan warga setempat tentang jumlah kasus penyakit diabetes secara nasional yang meningkat mencapai 35 juta orang atau 13 persen dari total jumlah penduduk 280 juta orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri Mochammad Bisri di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan angka tersebut melewati prediksi Kementerian Kesehatan RI yang menyebut bahwa penderita diabates di Indonesia bisa mencapai 10 persen atau 30 juta orang pada 2030.
"Sementara sekarang saja sudah ada 35 juta penderita diabetes di Indonesia," katanya.
Ia menyebut hampir semua provinsi di Indonesia mengalami tren kenaikan kasus diabates, termasuk di Kepri yang jumlahnya diperkirakan mencapai 250 ribu penderita maupun berisiko diabetes, dari total jumlah penduduk setempat sekitar 2,5 juta orang.
Ia menjelaskan penyakit diabetes dipicu beberapa faktor, antara lain faktor genetik atau keturunan, di mana ada gen yang diturunkan orang tua ke anaknya hingga menyebabkan si anak menderita diabetes. Satu di antara 10 penderita diabetes dipicu faktor keturunan.
Selain itu, faktor gaya hidup seseorang yang tidak sehat, seperti banyak mengonsumsi makanan olahan tinggi kalori dan lemak.
Seseorang kurang gerak atau aktivitas olahraga, kata dia, juga menyebabkan obesitas hingga terkena diabetes.
"Hindari makanan berkalori tinggi, lalu perbanyak konsumsi buah dan sayur, serta olahraga rutin untuk menghindari diabetes," kata Bisri.
Ia mengatakan saat ini diabetes menjadi perhatian pemerintah pusat hingga daerah, karena meskipun tidak masuk jenis penyakit menular, angka penderitanya tinggi.
Dinas Kesehatan Kepri telah upaya mencegah diabetes dengan melakukan pelaporan pemeriksaan data kesehatan warga melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) yang dikembangkan Kementerian Kesehatan.
Melalui aplikasi itu, semua warga Indonesia harus dilakukan pemeriksaan guna mengetahui secara awal potensi penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan jantung.
"Khusus di Kepri, kita sudah melakukan skrining sebesar 56 persen data kesehatan warga," kata dia.
Secara terpisah, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Kota Tanjungpinang Guptaja Kusumah Negara mengatakan sebagian besar pasien yang datang berobat ke poli penyakit dalam menderita diabetes.
"Untuk di Tanjungpinang angka penderita diabetes tergolong tinggi," ujarnya.
Ia mengatakan tiga gejala klinis paling khas atau disebut Trias Klasik untuk mengetahui seseorang menderita diabetes atau tidak, yakni Polidibsi yaitu sering merasa haus atau ingin minum secara berkala.
Selain itu, Poliuria yaitu sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari sehingga mengganggu waktu tidur. Kalau orang normal pada malam hari, hanya terbangun sekali untuk ke kamar mandi, pasien diabates bisa tiga hingga empat kali ke kamar mandi.
Selain itu, Polifagia yaitu sering merasa lapar padahal baru selesai makan.
"Kalau sudah cukup lama, biasanya ada gangguan saraf terutama saat bangun tidur, seperti otot keram ditambah kebas," ujarnya.
Ia menyarankan warga segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika mulai mengalami gejala diabates agar bisa ditangani lebih lanjut.
Baca juga:
Dinkes Batam perkirakan lebih satu kasus cacar monyet di Batam
Pemkot Batam berupaya susun program data pendidikan valid
Pemkab Natuna gandeng BRIN untuk perkuat RPJMD
Kepala Dinas Kesehatan Kepri Mochammad Bisri di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan angka tersebut melewati prediksi Kementerian Kesehatan RI yang menyebut bahwa penderita diabates di Indonesia bisa mencapai 10 persen atau 30 juta orang pada 2030.
"Sementara sekarang saja sudah ada 35 juta penderita diabetes di Indonesia," katanya.
Ia menyebut hampir semua provinsi di Indonesia mengalami tren kenaikan kasus diabates, termasuk di Kepri yang jumlahnya diperkirakan mencapai 250 ribu penderita maupun berisiko diabetes, dari total jumlah penduduk setempat sekitar 2,5 juta orang.
Ia menjelaskan penyakit diabetes dipicu beberapa faktor, antara lain faktor genetik atau keturunan, di mana ada gen yang diturunkan orang tua ke anaknya hingga menyebabkan si anak menderita diabetes. Satu di antara 10 penderita diabetes dipicu faktor keturunan.
Selain itu, faktor gaya hidup seseorang yang tidak sehat, seperti banyak mengonsumsi makanan olahan tinggi kalori dan lemak.
Seseorang kurang gerak atau aktivitas olahraga, kata dia, juga menyebabkan obesitas hingga terkena diabetes.
"Hindari makanan berkalori tinggi, lalu perbanyak konsumsi buah dan sayur, serta olahraga rutin untuk menghindari diabetes," kata Bisri.
Ia mengatakan saat ini diabetes menjadi perhatian pemerintah pusat hingga daerah, karena meskipun tidak masuk jenis penyakit menular, angka penderitanya tinggi.
Dinas Kesehatan Kepri telah upaya mencegah diabetes dengan melakukan pelaporan pemeriksaan data kesehatan warga melalui Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) yang dikembangkan Kementerian Kesehatan.
Melalui aplikasi itu, semua warga Indonesia harus dilakukan pemeriksaan guna mengetahui secara awal potensi penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan jantung.
"Khusus di Kepri, kita sudah melakukan skrining sebesar 56 persen data kesehatan warga," kata dia.
Secara terpisah, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Kota Tanjungpinang Guptaja Kusumah Negara mengatakan sebagian besar pasien yang datang berobat ke poli penyakit dalam menderita diabetes.
"Untuk di Tanjungpinang angka penderita diabetes tergolong tinggi," ujarnya.
Ia mengatakan tiga gejala klinis paling khas atau disebut Trias Klasik untuk mengetahui seseorang menderita diabetes atau tidak, yakni Polidibsi yaitu sering merasa haus atau ingin minum secara berkala.
Selain itu, Poliuria yaitu sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari sehingga mengganggu waktu tidur. Kalau orang normal pada malam hari, hanya terbangun sekali untuk ke kamar mandi, pasien diabates bisa tiga hingga empat kali ke kamar mandi.
Selain itu, Polifagia yaitu sering merasa lapar padahal baru selesai makan.
"Kalau sudah cukup lama, biasanya ada gangguan saraf terutama saat bangun tidur, seperti otot keram ditambah kebas," ujarnya.
Ia menyarankan warga segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika mulai mengalami gejala diabates agar bisa ditangani lebih lanjut.
Baca juga:
Dinkes Batam perkirakan lebih satu kasus cacar monyet di Batam
Pemkot Batam berupaya susun program data pendidikan valid
Pemkab Natuna gandeng BRIN untuk perkuat RPJMD
Pewarta : Ogen
Editor : Angiela Chantiequ
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes Kepri cek kesehatan warga didominasi temuan hipertensi dan diabetes
09 February 2026 12:08 WIB
Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang latih deteksi dini kaki diabetes dan senam kaki
17 September 2025 6:14 WIB
Pemkot Batam temukan 1.358 kasus diabetes melitus, pola makan tidak seimbang jadi pemicu utama
19 April 2025 10:59 WIB
Kemenkes catat kasus obesitas meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir
09 July 2023 18:13 WIB, 2023
Awas! Penggunaan minyak jelantah tingkatkan risiko kanker hingga obesitas
22 March 2023 9:51 WIB, 2023
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Imlek, Polres Lingga beri layanan kesehatan gratis kepada pengunjung klenteng
17 February 2026 15:44 WIB