Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA Biro Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan Forum Sangsaka menggelar seminar sehari "Pers dan Nasionalis" yang bertema Menggagas Jurnalis Kritis yang Berjiwa Nasionalis, Rabu (21/12).

Nasionalisme yang pantas ditegakkan oleh wartawan adalah nasionalisme yang menjaga semangat keutuhan dan kebersamaan. Ibaratnya merajut kebersamaan menjunjung negeri, kata Kepala Biro ANTARA Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Evy Ratnawati saat membuka acara tersebut.

Pers kini memainkan peranan besar dalam mempertahankan keutuhan Indonesia. Profesionalisme diyakini sebagai kunci utama bagaimana menumbuhkan dan mengembangkan konsep jurnalis yang nasionalis.

Hal inilah yang menjadi benang merah dalam seminar sehari "Pers dan Nasionalisme" yang digagas LKBN ANTARA dan mahasiswa FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji yang berprestasi yang tergabung dalam Forum Sangsaka.

"Kebersamaan yang dirajut tidak hanya di lokasi tempat dia bekerja atau di perusahaan pers dan medianya saja tetapi juga dengan nara sumber dan khalayak yang menjadi konsumen," ungkapnya yang juga sebagai narasumber dalam seminar itu.

Untaian berita yang dibuatnya jika tidak dirajut dengan seksama, teliti dan rapi, tentulah akan mudah koyak dan itu akan berdampak pada terjadinya ketidakbersamaan dan ketidakkompakan.

Wartawan yang kritis dan berjiwa nasionalis tidak akan menyebabkan dia mati rasa, tidak akan menyebabkan dia tertinggal berita dan tidak menyebabkan dia dikeluarkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

"Justru, dengan sikap kritisnya yang tetap memelihara jiwa nasionalisme sebagai anak negeri akan memberikan panutan bagi masyarakatnya bahwa kita semua berada dalam satu bangsa, satu bahasa dan satu bendera," ungkapnya.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 150 aktivis pers kampus, aktivis organisasi kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan ini menghadirkan empat orang pembicara utama lainnya yaitu anggota Komisi I DPRD Kepri Surya Makmur Nasution, Kepala Biro Humas Pemprov Kepri Misbardi, akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Ridarman Bay, dan Redaktur Pelaksana Harian Batam Pos Muhammad Nur.

Nasution dalam pemaparannya menjelaskan, jurnalis adalah sebuah profesi, sementara nasionalisme adalah identitas. "Kalau negara ini punya musuh dari luar, maka wartawan juga punya musuh. Musuh wartawan adalah amplop," kata Surya yang pernah menjadi wartawan Harian Kompas periode 1995-2005.

Surya menjelaskan, selama wartawan dan perusahaan media belum profesional, maka mereka akan rentan untuk menjadi kepanjangan kelompok kepentingan tertentu.

Karena itu, bila perusahaan media dan wartawannya sudah profesional, maka mereka akan menjadi sangat nasionalis, ungkapnya.

Surya mengambil contoh, bahwa pemberitaan tentang Papua, tidak bisa dianggap tidak nasionalis. Sebab, justru bila wartawan berhasil mengangkat akar permasalahan mengapa Papua tidak sejahtera, itulah yang disebut sebagai nasionalisme wartawan.

"Dengan mengangkat akar permasalahan di Papua, maka pemerintah pusat dan masyarakat bisa melakukan langkah untuk memperbaiki Papua, sehingga tidak timbul gejolak terus menerus," ujarnya.

Dalam seminar yang dimoderatori oleh Suryadi dari Umrah ini, Muhammad Nur mengungkapkan sejumlah fakta pemberitaan tentang nasionalisme yang tetap menarik untuk dibaca. Seperti misalnya tentang para TKI deportasi yang harus berjongkok di pelabuhan saat dipulangkan ke Indonesia lewat Tanjungpinang.

"Padahal mereka adalah para pahlawan devisa. Mengapa harus diperlakukan seperti itu ketika sampai di Tanjungpinang?" lanjut Nur.

Pada sisi lain, Kepala Biro Humas Pemprov Kepri Misbardi melihat bahwa media dapat menjadi alat kontrol yang baik bagi pembangunan, termasuk pembangunan di daerah. Pihak pemerintah daerah, kata Misbardi, sangat terbuka terhadap kritik, sepanjang disampaikan dengan cara yang elegan dan sesuai aturan.

"Sebab tujuannya adalah sama-sama untuk membangun, demi kesejahteraan masyarakat," paparnya.

Pembicara terakhir, Ridarman Bay yang juga pengajar jurnalistik di FKIP Umrah menjelaskan bahwa media kini memang sangat kuat mengontrol opini masyarakat. Ia mengambil contoh, bahwa media Barat selalu memberitakan Iran sebagai bangsa yang berbahaya karena sedang mengembangkan nuklir. Karena itu, publik dunia pun ikut tersedot pada opini itu.

"Tapi apakah memang demikian yang terjadi di Iran. Saya melihat hal yang sama juga dilakukan terhadap Irak. Setelah Irak diserang, ternyata tidak banyak bukti yang bisa ditunjukkan seperti yang telah diberitakan sebelumnya," papar Ridarman.

Sementara itu, Ketua Panitia, Gusmarni menjelaskan bahwa kajian-kajian tentang jurnalisme akan terus dikembangkan. Karena itu, Forum Sangsaka berencana untuk membuat kajian lain, dengan tujuan ikut berkontribusi mendorong terciptanya profesionalisme di dunia jurnalistik.

(KR-NP/E001)