Batam (ANTARA Kepri) - Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan Kota Batam, Suhartini mengatakan pembudidaya lele lokal hanya mampu memasok sekitar 90 ton dari 240 ton kebutuhan konsumsi lele per bulan.

"Ada sekitar 200 pembudidaya di Batam. Namun per hari hanya mampu memasok sekitar 90 ton saja. Sementara kebutuhan lele di Batam mencapai sekitar 240 ton," kata dia di Batam, Sabtu.

Ia mengatakan, saat ini di Batam ada sekitar 4.000 kolam tersebar di seluruh Batam yang dikelola oleh pembudidaya lokal.

"Saya akan kembali melakukan pendataan pada seluruh pembudidaya di Batam. Mungkin saja jumlahnya lebih dari itu dan produksinya juga lebih. Karena sejak 2011 impor lele untuk memenuhi kebutuhan Batam sudah dilarang. Namun persediaan di pasar selalu ada," kata dia.

Meski para pedagang menyatakan lele yang beredar di pasar Batam berasal dari Malaysia, namun Suhartini mengaku tidak mengetahuinya.

"Setahu saya impor sudah dilarang. Jadi kalau ada lele dari Malaysia itu ilegal dan bukan urusan pemerintah kota," kata Suhartini.

Pengurus Paguyuban Pembudidaya Ikan Air Tawar Batam, Ray Steven mengatakan banyak lele ilegal dari Malaysia masuk ke Batam sehingga produksi lokal tidak bisa terserap.   

"Pembudidaya di Batam sudah banyak. Empat ribu kolam, belum termasuk keramba. Jumlah petani ikan juga mencapai 2.000 orang. Namu kami tidak diperhatikan, sehingga saat panen harga lele kami kalah bersaing dengan lele dari Malaysia dan tidak terserap," kata dia.   

Ia mengatakan biaya produksi mencapai sekitar Rp12.300 per kilogram, sementara lele Malaysia yang masuk ke Batam hanya dihargai Rp9.000 per kilogram. 

Para pengunjuk rasa meminta ada kebijakan yang berpihak kepada petani ikan lokal.

"Kami minta lele impor ilegal dari Malaysia disetop. Agar kami bisa terus berkembang dan memenuhi kebutuhan di Batam dengan kesepakatan harga yang ditentukan pemerintah," kata dia. (ANTARA)

Editor: Rusdianto