Mataram (ANTARA) - Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi menetapkan status darurat bencana menyusul banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram sejak Ahad (6/7).

Keputusan tersebut diambil dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Kantor Gubernur NTB, Senin (7/7) malam. Status darurat ini akan berlaku selama 10 hari ke depan.

Plh Sekda NTB Lalu Moh Faozal di Mataram, Selasa, mengatakan penetapan status darurat merupakan langkah cepat untuk mempercepat proses pemulihan pasca-bencana.

"Mulai ini kita tetapkan status darurat bencana yang berlaku selama 10 hari. Ini agar proses penanganan bisa lebih cepat dan terkoordinasi," ujarnya.

Selama masa tanggap darurat, Pemprov) NTB akan mengaktifkan posko pengaduan dan posko tindakan, serta mengerahkan seluruh sumber daya termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk terlibat langsung dalam penanganan.

"Para ASN Pemprov akan turun ke lokasi terdampak. Ada skema pembagian tugas, OPD dan asisten akan membackup wilayah-wilayah tertentu," kata Faozal.

Faozal merinci Asisten I akan bertanggung jawab atas area perkantoran dinas provinsi di Jalan Majapahit, sedangkan Asisten II dan III akan fokus membantu di wilayah terdampak langsung.

Sementara untuk distribusi bantuan logistik, kata dia, Pemprov NTB memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. "Distribusi bantuan akan dikoordinir oleh Wali Kota Mataram karena beliau yang paling tahu kondisi dan sebaran wilayah terdampak," ucapnya.

Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh unsur Forkopimda, antara lain Kapolda NTB, Danrem, Kajati, Ketua DPRD NTB, Danlanud, Danlanal, serta pimpinan OPD terkait.

Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB melaporkan sebanyak 7.676 Kepala Keluarga (KK) atau 30.681 jiwa terdampak bencana banjir akibat hujan yang melanda Kota Mataram dan daerah sekitarnya.

Kepala BPBD NTB Ahmadi mengatakan ada enam kecamatan di Kota Mataram yang terdampak banjir, yakni Sandubaya, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, dan Ampenan.

"Korban luka-luka sebanyak 15 jiwa dan korban mengungsi ada 520 jiwa. Sedangkan, korban meninggal dunia dan korban hilang masih dalam proses pendataan," ujarnya.

Ahmadi menjelaskan, sungai-sungai yang mengalir di Kota Mataram meluap dan merendam pemukiman penduduk akibat hujan intensitas sedang hingga lebat pada Minggu (6/7) mulai pukul 14.00 Wita sampai sore.

"Peristiwa itu menyebabkan puluhan mobil terseret banjir, pohon tumbang, dan tembok keliling Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya roboh ke arah jalan.

"Kondisi saat ini sudah kondusif. Tim gabungan bersama saat ini sedang melakukan pembersihan material sisa banjir," katanya.

Anggarkan Rp100 juta...



Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), telah menyiapkan anggaran Rp100 juta untuk perbaikan tembok Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Modern Sabdubaya yang jebol akibat banjir di Kota Mataram pada Minggu (6/7).

Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Mataram Vidi Partisan Yuris Gamanjaya di Mataram, Selasa, mengatakan anggaran sebesar Rp100 juta itu merupakan dana pemeliharaan TPST dan akan digunakan untuk perbaikan tembok TPST yang roboh akibat banjir.

"Anggaran kami gunakan sesuai kebutuhan. Kami hitung dulu berapa kebutuhan untuk perbaikan tembok, bukan serta merta Rp100 juta dihabiskan," katanya.

Ia mengatakan tembok TPST modern yang roboh akibat banjir sekitar 20 meter dan sekitar 15x10 meter paving block yang dibuat dari sampah plastik dan sudah tertata pada areal TPST hanyut terbawa banjir.

Banjir di areal TPST terjadi karena terjadi genangan air ke satu titik, padahal pada desain yang dibuat aliran air di TPST terbuang langsung ke aliran sungai.

Namun ternyata, kata dia, pada bagian bawah ada pipa sebesar 8 inci yang digunakan sebagai saluran. Dengan debit hujan yang besar dan berlangsung lama, kapasitas pipa tidak bisa menampung air dari atas

"Akibatnya terjadi genangan dan memicu tembok keliling TPST jebol," katanya.

Untuk keamanan, lanjut dia, tembok roboh sekitar 20 meter sudah ditutup sementara dengan spandek sambil menunggu persiapan untuk perbaikan secara permanen dengan anggaran yang sudah ada.

Sementara terkait dengan sampah-sampah di TPST modern tidak ada yang hanyut dan masih aman karena sampah berada di bagian atas dan dalam ruang tertutup.

Untuk paving block yang hanyut, kata Vidi, sudah habis diambil oleh warga sebab paving block tersebut masih dalam kondisi utuh dan bisa digunakan kembali.

"Tidak apa-apa diambil warga, anggap saja itu bagian sosialisasi dan edukasi pengolahan sampah plastik. Sementara kami juga tetap memproduksi paving block," katanya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Diterjang banjir besar, NTB tetapkan status darurat bencana Mataram