Jakarta (ANTARA) - Indonesia mengutuk keras penyerbuan dan provokasi terbaru terhadap Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur oleh sejumlah menteri Zionis Israel bersama kelompok pemukim ilegal Israel di bawah perlindungan polisi akhir pekan lalu.
Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono, serbuan tersebut memperkeruh kondisi keamanan serta memperparah ketegangan antara masyarakat Palestina dan pemukim Israel di Yerusalem.
“Kami melihatnya sebagai pelanggaran status quo yang membuat situasi semakin rumit,” kata Sugiono setelah pertemuan bilateral dengan Menlu Belarus Maxim Ryzhenkov di Kantor Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Selasa.
Sejumlah media melaporkan bahwa pejabat dan pemukim sayap kanan Israel yang dipimpin oleh pemimpin otoritas keamanan nasional Itamar Ben-Gvir merangsek masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Minggu (4/8) untuk beribadah di sana.
Tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah lama berlaku selama beberapa dekade ini yang memungkinkan orang Yahudi untuk berkunjung ke situs tersebut, tetapi tidak untuk beribadah di sana.
Ben-Gvir, sekutu Zionis dan ultranasionalis pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu, mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan dirinya berdiri di situs suci umat Islam tersebut dengan dikelilingi oleh para pemukim Yahudi dan polisi Israel.
Pejabat Zionis itu diketahui sudah memerintahkan polisi untuk mengizinkan pemukim ilegal menyanyi dan menari di dalam kompleks masjid sejak beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, Anadolu melaporkan bahwa otoritas wakaf pengelola kompleks Al-Aqsa mencatat adanya lonjakan pelanggaran sejak Ben-Gvir menjabat pada akhir 2022.
Dalam putusan bersejarah pada Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menuntut evakuasi seluruh permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Palestina ingatkan rencana penyerbuan Al-Aqsa oleh pemukim Israel...
Kementerian Luar Negeri Palestina pada Sabtu memperingatkan adanya rencana kelompok pemukim ilegal Israel untuk melakukan penyerbuan massal ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki pada Minggu.
Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan Tisha B’Av, hari berkabung dalam tradisi Yahudi yang dikaitkan dengan penghancuran First and Second Temples.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam “kampanye hasutan dan persiapan pemukim” untuk penyerbuan tersebut, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut mencerminkan tekad Israel untuk menargetkan Masjid Al-Aqsa serta secara bertahap memperkuat kendali atas situs suci tersebut.
Kementerian tersebut menuduh Israel menggunakan acara keagamaan untuk mendukung agenda kolonial dan ekspansionisnya, serta mengubah status quo historis dan legal dari situs-situs suci umat Muslim dan Kristen.
Kementerian juga mendesak komunitas internasional agar mengambil langkah konkret untuk melindungi rakyat Palestina, terutama Yerusalem dan situs-situs sucinya.
Pemerintah Provinsi Yerusalem turut memperingatkan eskalasi berbahaya dan menyatakan bahwa rencana penyerbuan tersebut bukan sekadar tindakan keagamaan yang terisolasi, melainkan bagian dari upaya terencana untuk melemahkan status hukum dan sejarah Al-Aqsa serta memberlakukan kedaulatan Israel.
Seruan tahun ini muncul di tengah meningkatnya penghasutan, hanya beberapa minggu setelah Kepala Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memerintahkan polisi untuk mengizinkan pemukim ilegal menyanyi dan menari di dalam kompleks masjid.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Indonesia kecam keras penyerbuan Masjid Al-Aqsa oleh Israel