Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi membantah bahwa organisasi yang ia pimpin itu putus hubungan dengan mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

“Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi. Jangan di-framing. Projo ini lahir karena ada Pak Jokowi,” katanya dalam Kongres III Projo di Jakarta Pusat, Minggu.

Diterangkan Budi, Projo lahir dari keinginan lahirnya pemimpin dari kalangan rakyat.

“Projo sejatinya lahir karena ada seorang pemimpin rakyat yang harus lahir dari kandungan rakyat itu sendiri yang bernama Bapak Joko Widodo,” katanya.

Ia pun mengaku heran ketika ada media yang mengadu domba antara Projo dan Jokowi.

"Tolong kepada semua media jangan mengadu domba sesama anak bangsa," ucapnya.

Lebih lanjut, mantan Menteri Koperasi itu juga angkat bicara terkait perubahan logo Projo dari yang sebelumnya bergambarkan siluet wajah Jokowi.

Budi mengungkapkan bahwa dirinya telah menghubungi Jokowi terkait pergantian logo ini.

“Tadi pagi saya masih komunikasi dengan Pak Jokowi, bahwa perubahan logo ini adalah bagian dari transformasi organisasi Projo untuk menjawab tantangan dan perkembangan zaman,” katanya.

Pergantian logo ini, kata dia, mencerminkan semangat dan tujuan organisasi dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Nantinya, Projo akan melaksanakan sayembara untuk memilih logo baru.

“Nanti logonya sendiri akan kita sayembarakan sehingga partisipasi publik bisa muncul pada logo Projo yang baru,” ucapnya.

 

Baca selanjutnya...

Budi Arie terpilih kembali...

 


Budi Arie Setiadi kembali terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Projo untuk periode 2025–2030.

Pemilihan tersebut ditetapkan dalam Kongres III Projo yang digelar di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta pada Sabtu (1/11) dan Minggu.

“Hasil Kongres III Projo 2025, yang pertama telah meletakkan saya sebagai ketua umum kembali periode 2025-2030 dan telah menunjuk tim formatur yang berisi lima orang,” kata Budi.

Mantan Menteri Koperasi itu mengatakan, Kongres III Projo juga menghasilkan lima resolusi organisasi. Pertama adalah mendukung dan memperkuat pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Kedua adalah mendukung dan memperkuat agenda politik Presiden Prabowo dan menyukseskan Presiden Prabowo pada 2029.

Ketiga, melakukan transformasi organisasi dalam menjawab tantangan dan perubahan situasi nasional.

Keempat, Projo mendorong politik persatuan nasional. Terakhir, Projo membantu pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Lebih lanjut, Budi mengatakan bahwa Projo juga akan mengubah logo organisasi dari logo sekarang yang bergambar wajah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Logo organisasi harus mencerminkan nilai dan cita-cita tatanan besar untuk jangka waktu yang lama, bahkan bisa selamanya. Maka, perubahan logo Projo mencerminkan semangat dan tujuan organisasi dalam jangka panjang dan berkelanjutan,” katanya.

Nantinya, pemilihan logo tersebut akan disayembarakan.

“Tadi pagi juga kami sudah berkomunikasi dengan Pak Jokowi via telepon, juga kami akan sampaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami akan melaporkan seluruh hasil dan rekomendasi Kongres III Projo ini kepada beliau,” ucapnya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Budi Arie bantah Projo putus hubungan dengan Jokowi

Pewarta : Nadia Putri Rahmani
Editor : Yuniati Jannatun Naim
Copyright © ANTARA 2026