Karimun (Antara Kepri) - Komisi A DPRD Karimun Provinsi Kepulauan Riau meminta bupati membantu SMA Negeri 6 Kundur di daerah terpencil Kecamatan Belat yang telah tujuh tahun beroperasi, tetapi sarana maupun prasarananya belum memadai.

"Infrastruktur pendukung seperti jalan, sarana dan prasarana sekolah hingga tenaga pendidik sekolah di wilayah terpencil ini sangat membutuhkan perhatian dari Bupati Karimun," ucap Ketua Komisi A DPRD Karimun, Jamaluddin, saat melakukan kunjungan kerja ke sekolah itu, Selasa.

Jamaluddin menuturkan dapat dikatakan seluruh pembangunan fisik sekolah itu sejak 2008 hingga kini dibiayai secara bertahap oleh pemerintah pusat.

"Status tenaga pendidik di sekolah yang memiliki siswa lebih kurang 160 orang pun sangat memprihatinkan. Dari 13 orang tenaga pendidikan yang tercatat termasuk kepala sekolahnya, hanya dua orang pendidikan berstatus sebagai PNS, sisanya sebanyak 9 orang pendidik masih berstatus sebagai honor insentif daerah," tuturnya.

Menurut dia, namun yang lebih miris lagi, meski sekolah itu sudah hampir berusia tujuh tahun belum memiliki guru khusus yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sosiologi dan Geografi.

"Padahal ketiga mata pelajaran itu termasuk dalam mata pelajaran ujian negara, terkait kondisi tersebut terus terang kami meragukan komitmen Pemkab Karimun untuk memajukan pendidikan di Karimun," ujarnya.

Menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Muhammad Yatim To'i SPd  meski pembangunan fisik sekolah yang dipimpinnya telah dibiayai secara bertahap oleh pemerintah pusat, tetap memerlukan bantuan pemerintah daerah.

"Kami masih membutuhkan sejumlah pembangunan fisik dan mudah-mudahan dibiayai dengan APBD Karimun, bangunan fisik yang masih kami butuhkan diantaranya adalah pembangunan labor bagi siswa jurusan IPA dan IPS berikut perlengkapannya, perpustakaan, mebeler untuk dua ruangan kelas serta dua ruangan kelas baru," ucapnya.

Tentang infrastruktur yang dibutuhkan sekolah, kata dia, adalah pembangunan jalan dari Pelabuhan Sebele menuju sekolah lebih kurang sepanjang 4 km, serta pematangan lahan sekolah.

"Hingga kini sejumlah siswa termasuk sejumlah tenaga pendidik kami kesulitan ke sekolah, terutama saat hujan, karena jalan masih setapak. Selain itu sekolah kami juga belum dilengkapi rumah guru, sehingga sejumlah guru kami harus berulang bolak balik dari Urung (Kundur Utara) kemari, setiap hari guru kami butuh biaya transportasi sebesar Rp40 ribu. Sementara honor insentif daerah yang mereka peroleh setiap bulan hanya sebesar Rp750 ribu," katanya.

Dia memaparkan selama ini benar-benar hanya semangat dan keinginan mereka untuk memajukan pendidikan yang membuat para guru yang masih berstatus honor intensif daerah bisa bertahan.

"Betapa tidak, karena setiap bulan mereka harus mengeluarkan sendiri biaya ekstra untuk transportasi yang jumlahnya jauh melebihi honor yang mereka terima," paparnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Komisi A DPRD Karimun Anwar Hasan, berharap pada Muhammad Yatim To'i agar tidak patah arang untuk mengajukan kebutuhan sekolah tersebut.

"Ajukanlah, bila perlu setiap saat tanpa harus menunggu masa reses atau musyawarah rencana pembangunan tingkat kecamatan digelar. Kami pun berharap kedepan benar-benar ada perhatian khusus dari Pemkab Karimun kepada sekolah yang berada di wilayah terpencil," ucapnya.

Berdasarkan pengamatannya selama ini perhatian Dinas Pendidikan Pemkab Karimun terhadap kebutuhan sekolah di wilayah terpencil memang minim.

"Karena itu, kami berharap semoga saja kondisi yang dialami SMA Negeri 6, diketahui oleh bupati dan mendapat perhatian serius dari bupati," ujarnya.

Di tempat yang sama anggota Komisi A Jamaluddin Sahari berpendapat, pengadaan mebeler untuk dua ruangan kelas tidak terlalu bermasalah.

"Saya yakin, jika terus diajukan pada tahun ini juga dan pengajuan tersebut diketahui oleh bupati, segera akan dipenuhi oleh Pemkab Karimun," katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun saat ini sekolah itu merupakan SMA Negeri satu-satunya di Kecamatan Belat.

Jumlah total siswa sebanyak 160 siswa, sedangkan jumlah siswa yang mengikuti UN sebanyak 45 siswa, dengan rincian jurusan IPA sebanyak 18 siswa 15 siswa diantaranya berjenis kelamin perempuan. Jurusan IPS sebanyak 27 siswa dengan rincian 20 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. (Antara)

Editor: Rusdianto