Jakarta (ANTARA) - BPBD DKI Jakarta mencatat hingga saat ini 822 warga di Jakarta Utara masih mengungsi pada sejumlah lokasi pengungsian akibat banjir pada di kawasan itu, Senin (12/1).

“Ratusan warga yang mengungsi ini di dua kecamatan yakni Cilincing dan Tanjung Priok. Data hingga pukul 12.00 WIB,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan di Jakarta, Senin.

Para warga itu antara lain mengungsi di Rusun Embrio, di Gedung Pelayanan Masyarakat, di Bengkel Mobil Gading Griya Lestari, dan di beberapa musahala.

Selain itu, ada enam RT yang masih terendam banjir hingga Selasa siang seperti di Kelurahan Kalibaru, Cilincing dengan ketinggian air 30 sentimeter (cm).

Kemudian, lima RT di Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok dengan ketinggian air 30 cm.

BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengkoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas.

“Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat,” kata dia.

Sebelumnya BPBD Provinsi DKI Jakarta terus melakukan upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak banjir di Jakarta Utara.

Pendistribusian bantuan logistik dilaksanakan secara intensif sejak Senin (12/1) malam hingga Selasa dini hari dengan melibatkan unsur lintas sektor.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, BPBD telah menyalurkan berbagai jenis bantuan logistik dengan total nilai bantuan sebesar Rp575,4 juta dengan rincian 226 paket perlengkapan anak,226 dus air mineral, 226 biskuit kaleng, 226 paket sandang dan 840 matras.

Selain bantuan dari BPBD Provinsi DKI Jakarta, pendistribusian logistik juga didukung oleh berbagai pihak, antara lain Suku Dinas Sosial Jakarta Utara, unsur kepolisian, relawan, serta lembaga kemanusiaan lainnya.

“Seluruh bantuan telah diserahterimakan secara resmi kepada kelurahan, RT setempat dan warga terdampak, disertai penandatanganan berita acara serah terima (BAST),” kata dia.

Sementara itu, emerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat (Jakbar) melakukan evaluasi terhadap permasalahan banjir yang kerap terjadi di wilayah setempat.

Menurut Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, banjir di Jakarta Barat tidak dapat dilihat dari satu faktor saja, tetapi juga gabungan dari faktor alam, geografis, dan infrastruktur.

"Banjir, seperti saya sampaikan tadi di apel, bahwa ini adalah persoalan yang multidimensi, ya, sesungguhnya. Ini kita bicara air kan, bicara hulu sampai ke hilir," kata Iin setelah memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa.

Dia menilai faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kiriman luapan air yang menyebabkan kenaikan muka air, cuaca ekstrem serta kondisi sheetpile atau turap kali.

Selain itu, dia juga menyoroti data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait curah hujan yang mengguyur Jakarta Barat, yang mencapai 192 milimeter (mm) dan tergolong kategori ekstrem.

"Kalau kita melihat kemarin, tuh, banjir secara data dari BMKG memang tinggi sekali curah hujannya, dan kemudian durasinya juga sangat lama, hampir setengah hari, ya, kalau kita melihat waktu kemarin," ujar Iin.

Kondisi geografis Jakarta Barat yang berada di area dekat hilir serta lebih rendah dari permukaan laut pun dinilai turut mempengaruhi tingkat kerentanan bencana banjir.

Maka dari itu, beragam upaya antisipasi pun dilakukan oleh Pemkot Jakbar, termasuk pengerukan 11 kali besar yang melewati wilayah setempat.

"Salah satu yang dilakukan adalah di Kali Sepak, di wilayah Kembangan. Kali Sepak ini nanti alirannya akan menuju ke Kali Angke. Nah, ini akan berakibat juga ke beberapa wilayah. Untuk itu, menjadi kunci di hulu, kita akan lakukan ini (pengerukan) supaya lebih optimal," tutur Iin.

Dalam pengerukan Kali Sepak, Pemkot Jakbar menerjunkan tiga alat berat, 10 truk pengangkut lumpur serta 20 personel.

Sebelumnya, banjir menggenangi sejumlah titik di wilayah Jakarta Barat selama lebih dari 24 jam, mulai Senin (12/1) pagi hingga Selasa. Titik terparah berada di Kelurahan Kamal, Tegal Alur dan Rawa Buaya.

Namun, sejumlah titik banjir dilaporkan telah surut pada Senin (12/1) malam. 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hampir 900 warga masih ngungsi di Jakut akibat banjir