Penyebaran HIV/AIDS di Kepri tak terkendali
Senin, 4 Maret 2019 19:07 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana (Antaranews Kepri/Rusdianto)
Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau tidak memiliki kapasitas untuk mengendalikan penularan HIV/AIDS secara maksimal.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, Senin, mengatakan, pengidap HIV/AIDS tidak mungkin diisolasi pemerintah sehingga penularan virus mematikan itu tidak dapat dicegah, kecuali ada kesadaran diri para penderitanya.
"Kami tidak memiliki kapasitas untuk mengisolasi para penderita HIV/AIDS," katanya.
Salah satu penyebab penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Namun, ada penyebab lain orang tertular virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh itu, seperti dokter atau bidan yang menangani penderita HIV/AIDS yang akan melahirkan.
Dokter dan bidan dapat tertular penyakit mematikan itu ketika ketuban pecah, dan air masuk ke tubuh dokter atau bidan tersebut.
Ada juga kasus dokter yang tertular saat melakukan operasi terhadap pasien yang menderita HIV/AIDS. "Ada juga anak-anak yang masih pelajar SD di Kepri yang tertular HIV/AIDS. Apakah orang-orang yang seperti ini yang diisolasi?" ucapnya.
Tjetjep mengatakan dari berbagai kasus HIV/AIDS di Kepri, kebanyakan penularan virus itu disebabkan hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik untuk narkotika.
"Di Kepri juga ada kasus HIV/AIDS yang diidap pejabat tertentu. Pejabat tersebut baru diketahui mengidap HIV/AIDS setelah meninggal dunia," katanya.
Tjetjep mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kepri terus meningkat sepanjang tahun. Hal itu disebabkan para penderita masih beraktivitas, dan berinteraksi dengan berbagai pihak.
"Penderita HIV Aids sulit dideteksi pemerintah, kecuali penderitanya memiliki kesadaran untuk memeriksa kesehatannya. Mereka juga sebaiknya meningkatkan keimanan, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan penularan," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, Senin, mengatakan, pengidap HIV/AIDS tidak mungkin diisolasi pemerintah sehingga penularan virus mematikan itu tidak dapat dicegah, kecuali ada kesadaran diri para penderitanya.
"Kami tidak memiliki kapasitas untuk mengisolasi para penderita HIV/AIDS," katanya.
Salah satu penyebab penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Namun, ada penyebab lain orang tertular virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh itu, seperti dokter atau bidan yang menangani penderita HIV/AIDS yang akan melahirkan.
Dokter dan bidan dapat tertular penyakit mematikan itu ketika ketuban pecah, dan air masuk ke tubuh dokter atau bidan tersebut.
Ada juga kasus dokter yang tertular saat melakukan operasi terhadap pasien yang menderita HIV/AIDS. "Ada juga anak-anak yang masih pelajar SD di Kepri yang tertular HIV/AIDS. Apakah orang-orang yang seperti ini yang diisolasi?" ucapnya.
Tjetjep mengatakan dari berbagai kasus HIV/AIDS di Kepri, kebanyakan penularan virus itu disebabkan hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik untuk narkotika.
"Di Kepri juga ada kasus HIV/AIDS yang diidap pejabat tertentu. Pejabat tersebut baru diketahui mengidap HIV/AIDS setelah meninggal dunia," katanya.
Tjetjep mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kepri terus meningkat sepanjang tahun. Hal itu disebabkan para penderita masih beraktivitas, dan berinteraksi dengan berbagai pihak.
"Penderita HIV Aids sulit dideteksi pemerintah, kecuali penderitanya memiliki kesadaran untuk memeriksa kesehatannya. Mereka juga sebaiknya meningkatkan keimanan, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan penularan," katanya.
Pewarta : Nikolas Panama
Editor : Rusdianto Syafruddin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Bintan siapkan layanan kesehatan "home care" untuk jamaah haji baru pulang
02 June 2026 11:39 WIB
Dinkes Kepri kirim sampel suspek pasien penyakit Super Flu ke Kementerian Kesehatan
13 January 2026 14:00 WIB
110 siswa SMP dan SMA di Purworejo dibawa ke puskesmas diduga keracunan MBG
03 October 2025 15:12 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
BPS catat kunjungan wisman Kepri Januari-Juli 2026 meningkat 12,88 persen
01 September 2026 16:59 WIB