
Komitmen Penanggulangan AIDS di Karimun Rendah

Karimun (ANTARA News) - Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau menilai komitmen pemrintah kabupaten setempat masih rendah sehingga berdampak pada meningkatnya penderita HIV/AIDS setiap tahun.
"Rendahnya komitmen menanggulangi HIV/ADIS bukan hanya kalangan warga masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan dan penganggaran," kata Komisi Penanggulangan AIDS Karimun Erwan Muharuddin di Tanjung Balai Karimun, Senin 4 Oktober 2010.
Erwan mengatakan, warga masyarakat terutama kelompok berisiko tinggi masih memiliki kencenderungan mengabaikan seks aman, terutama kelompok berperilaku heteroseksual sebagai penyebab dominan penularan HIV/AIDS di kabupaten tersebut.
"Permintaan kondom di lokalisasi atau kelompok heteroseksual tinggi dan stok cukup. Namun, ada indikasi mereka tidak menggunakannya saat berhubungan seks," katanya.
Menurut dia, lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam membuat kebijakan serta penganggaran turut memicu tingginya tingkat penularan wabah mematikan tersebut.
"Sampai saat ini, anggaran untuk menanggulangi AIDS masih bergantung pada dana lembaga dunia 'Global Fund' melalui APBN, sedang anggaran dari APBD provinsi dan kabupaten belum ada," ucapnya.
Dijelaskannya, dana operasional klinik VCT (voluntary counseling and testing) yang terdapat di RSUD Karimun juga masih bergantung pada Global Fund.
"Kami berharap pemerintah daerah meningkatkan perhatiannya karena pencegahan wabah tersebut merupakan program nasional yang harus didukung semua pihak," katanya.
Berdasarkan data dari klinik VCT, kasus HIV pada periode Januari-Agustus 2010 mencapai 102 kasus dengan rata-rata 11 kasus per bulan.
Angka itu meningkat dibandingkan tahun 2009 dengan rata-rata 8 kasus setiap bulan, sedangkan kasus AIDS terdapat 25 kasus juga meningkat dibandingkan 2009.
"Jika dihitung sejak 1999, lebih dari 300 orang terinfeksi HIV dan 150 lebih positif AIDS," paparnya.
Wabah HIV/AIDS diibaratkan seperti gunung es karena diperkirakan jumlah penderita lebih banyak dari yang terdata. Minimnya kesadaran kelompok berisiko tinggi menyulitkan kita mendeteksi jumlah penderita sebenarnya, tambahnya. (ANT-028/S019/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
