Logo Header Antaranews Kepri

Organda Karimun Minta Pengecer Bensin Ditertibkan

Minggu, 17 Oktober 2010 14:33 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA News) - Organisasi Angkutan Darat Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait menertibkan pengecer bensin yang tidak menggunakan takaran liter dan harga wajar.

"Pemerintah daerah harus menertibkan pengecer bensin yang menjual dengan takaran seenaknya. Konsumen merasa dirugikan dengan praktik cari untung seperti itu," kata Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Cabang Karimun Amirullah, di Tanjung Balai Karimun, Minggu.

Pengecer bensin yang menjamur di Pulau Karimun Besar, menurut Amirullah banyak menjual bensin dengan takaran botol, bukan takaran liter yang memiliki standar dengan harga yang jelas.

"Kios-kios banyak yang menjual bensin seharga Rp10.000 untuk botol ukuran satu liter. Sedangkan, harga yang ditetapkan pemerintah hanya Rp5.500/liter, mereka untung hampir dua kali lipat," ucapnya.

Pengecer, tutur dia, umumnya menjual bensin beberapa harga, yaitu Rp5.000, Rp7.500, Rp10.000 serta Rp15.000 dengan menggunakan botol bekas air mineral atau minyak goreng.

"Harga-harga tersebut tidak memiliki standar takaran yang jelas, mereka menakar dengan cara ditebak dan semaunya. Tidak jarang, ada kios yang takarannya banyak, ada juga yang sedikit," tuturnya.

Dia juga menduga banyak pengecer menjual bensin yang dibeli dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Poros Tanjung Balai Karimun, satu-satunya SPBU yang melayani konsumen tiga kecamatan, Tanjung Balai Karimun, Meral dan Tebing.

"Mereka membelinya dengan sepeda motor atau mobil yang tangkinya kemudian disedot di rumah, satu hari bisa empat kali bolak-balik ke SPBU," katanya.

Praktik seperti itu, lanjut dia, jelas merugikan konsumen karena berdampak pada persediaan BBM di SPBU.

"Jika BBM di SPBU, konsumen terpaksa membeli di kios dengan harga mahal," katanya.

Dia berharap pemerintah menertibkan kios-kios bensin nakal dengan mewajibkan penggunaan takaran dan harga wajar.

"Harus ada perizinan yang jelas sehingga tidak semua orang dapat menjual BBM. Saat ini saja, kios bensin jumlahnya sangat banyak. Asal ada warung pasti ada bensin," katanya menandaskan.(ANT-028/A013/Btm2)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026