
Inflasi Batam Pada November 0,41 Persen

Tanjungpinang (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik mencatat pada November 2010 di Batam terjadi inflasi sebesar 0,41 persen, sehingga inflasi tahun kalender Januari-November sebesar 6,75 persen dan inflasi tahunan 6,62 persen.
Inflasi tahun kalender 2010 itu jauh lebih tinggi dibanding inflasi periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 2,01 persen, sementara inflasi "year on year" (November 2010 dibanding dengan November 2009) juga lebih tinggi dibandingkan inflasi periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 1,87 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau (BPS Kepri) Said Syafri, Rabu, mengatakan, inflasi di Batam disebabkan kenaikan indeks harga konsumen dari 119,53 pada Oktober 2010 menjadi 120,02 pada November 2010.
"Sejak Januari 2010 hingga sekarang Batam selalu mengalami inflasi," ujar Said di Tanjungpinang, Ibu Kota Kepri.
Inflasi di Batam dipicu oleh naiknya indeks harga kelompok bahan makanan sebesar 1,40 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,12 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,16 persen, kelompok sandang sebesar 0,23 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen.
Sebaliknya, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga justru mengalami penurunan indeks sebesar 0,13 persen.
"Perubahan harga pada 50 komoditas menjadi pemicu terjadinya inflasi di Kota Batam pada November 2010," ungkapnya.
Sebanyak 34 dari 50 komoditas/jasa mengalami kenaikan harga antara lain, cabai merah, beras, kacang panjang, wortel, minyak goreng, sewa rumah, sawi hijau, emas perhiasan, bawang merah, ketimun, rokok kretek filter, bensin, cabai hijau, kelapa, gula pasir, pengharum cucian, dan buncis.
Sebaliknya, tercatat 16 komoditas lainnya mengalami penurunan harga antara lain, bayam, kangkung, daging ayam ras, ikan selar, jeruk, televisi berwarna, sotong, anggur, ikan kakap merah, cabai rawit, ikan bawal, bawang bombay, ikan tenggiri, daging sapi, dan cumi-cumi.
"Harga barang/jasa kebutuhan masyarakat selalu mengalami perubahan," katanya.
Said mengemukakan, BPS melakukan survei inflasi pada 16 kota di Sumatra. Inflasi tertinggi di Sumatera di Kota Lhokseumawe sebesar 2,64 persen, sementara yang terendah di Kota Batam sebesar 0,41 persen.(ANT-NP/A023/Btm2)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
