Logo Header Antaranews Kepri

Peningkatan Panen Cabai Karimun Terkendala Pupuk

Rabu, 19 Januari 2011 19:48 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA News) - Kontak Tani Nelayan Andalan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan peningkatan hasil panen cabai petani lokal terkendala minimnya pupuk kandang.

"Jumlah pupuk kandang produk KTNA jauh dari cukup. Inilah yang menjadi kendala bagi petani dalam mengoptimalkan hasil panen tanaman cabai,'' kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karimun Amirullah, di Tanjung Balai Karimun, Rabu.

Amirullah mengatakan, pengolahan pupuk kandang KTNA merupakan satu-satunya di Pulau Karimun dengan produksi hanya tiga ratus kilogram pupuk kandang basah setiap hari.

''Jumlah sebanyak itu hanya cukup untuk kebutuhan sendiri,'' ucapnya.

Dia menuturkan, pupuk kandang atau kompos merupakan penyeimbang pupuk kimia seperti NPK, fungsi pupuk kompos menurut dia berfungsi menjaga kelembaban dan unsur hara tanah.

''Lahan menjadi kering jika hanya mengandalkan pupuk kimia,'' katanya.

Pupuk kompos yang diolah KTNA, menurut dia masih mengandalkan sampah warga yang dikumpulkan di tempat pembuangan akhir di Sememal, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral.

"Pupuk kompos sebenarnya dapat diolah dengan menggunakan bahan baku rumput atau daun jagung dan lainnya, tapi pengembangannya harus melalui campur tangan penyuluh pertanian,'' tuturnya.

Menurut dia, tingginya harga cabai di pasaran merupakan peluang besar bagi petani untuk meningkatkan penghasilan. Harga jual cabai merah dari petani ke pedagang saat ini berkisar antara Rp35.000 - Rp40.000/kg.

''Petani lokal sebenarnya diuntungkan dengan harga yang melonjak tinggi karena mereka tidak menjual hasil panen melalui tengkulak seperti di daerah lain, petani dapat langsung menjual kepada pedagang di pasar,'' katanya.

Dia berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian membuat program pengembangan pupuk kompos melalui kelompok-kelompok tani.

Secara terpisah, Ketua Kelompok Tani Amanah Meral, Sudirman mengatakan, harga jual cabai petani ke tingkat pedagang berkisar Rp40.000/kg.

Tingginya harga jual cabai kepada pedagang, menurut dia menguntungkan petani jika didukung ketersediaan pupuk kandang.

"Hasil panen tidak maksimal karena pupuk kompos tidak tersedia dengan cukup,'' katanya.

Menurut Sudirman, cabai merah Karimun sebenarnya tidak hanya dijual di pasar tradisional setempat, tapi merambah hingga Tanjungsamak, Meranti Riau.

Lahan terluas menurut dia berada di Pulau Kundur dan ditopang lahan di Kecamatan Meral Pulau Karimun Besar.

Namun demikian, produksi cabai petani tidak berkesinambungan akibat pupuk kompos yang terbatas.


Terjebak rentenir

Ketua KTNA Amirullah juga mengatakan sekitar 30 hingga 40 persen petani terjebak utang pada rentenir dengan bunga tinggi yang mencapai 25 persen.

"Banyak petani yang meminjam modal pada rentenir sehingga keuntungan tidak optimal meski harga jual cabai merah di pasaran tinggi,'' katanya.

Menurut dia, petani terjebak rentenir karena membutuhkan modal untuk membeli pupuk dan bibit.

"Bunga pinjamannya tinggi, mencapai 25 persen dengan cicilan setiap hari. Akibatnya, keuntungan yang didapatkan dinikmati oleh rentenir,'' katanya.

Dia mengatakan, pemerintah daerah seyogianya membuat program kredit lunak agar petani modal kecil dapat menikmati tingginya harga pasar.

''Harga cabai yang kini berkisar Rp55.000/kg hanya dinikmati petani bermodal besar,'' katanya.
(ANT-RD/A013/Btm1)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026