Logo Header Antaranews Kepri

Puluhan Pengemis Berebut "Angpao" di Tanjungpinang

Kamis, 3 Februari 2011 18:28 WIB
Image Print
Seorang pengemis menunjukkan uang dari angpao. (kepri.antaranews.com/Henky Mohari)

Tanjungpinang (ANTARA News) - Puluhan pengemis saling berebut "angpao" yang dibagikan warga keturunan Tionghoa usai melakukan sembahyang Imlek 2562 di Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis.

Pantauan ANTARA, akibat saling berdesakan berebut sedekah Imlek tersebut, diantara pengemis yang umumnya berusia lanjut, ada yang terjatuh akibat saling dorong.

Bahkan, pengurus Vihara sempat menyiramkan air agar pembagian "angpao" berjalan tertib dan tidak mengganggu warga yang sedang melakukan sembahyang Imlek.

"Lumayan lah pak, sudah dapat hampir Rp100.000," ujar salah seorang pengemis yang mengaku bernama Sri.

Sri mengaku sudah tahun ketiga mengantri pembagian "angpao" di Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang sejak datang dari Jawa Timur.

"Saya mengemis hanya pada saat Imlek, Lebaran Islam dan pada saat umat Islam Shalat Jumat," ujar Sri, sambil menggendong anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun.

Menurut dia, pembagian "angpao" biasanya tertib, namun pada Imlek 2562 banyak datang pengemis baru.

"Kami berebutan karena sekarang banyak datang pengemis baru yang tidak mau tertib," ujarnya sambil menunjuk sekumpulan warga yang menunggu pembagian "angpao" persis di depan tempat sembahyang warga yang merayakan Imlek.

Pengemis lain, Yana mengaku sudah mendapatkan sedekah Imlek sebanyak Rp300 ribu dari pagi hingga petang.

"Saya dari tahun 2006 mengemis di sini, walaupun sudah dapat sekitar Rp300 ribu, masih kurang dari tahun sebelumnya," ujar Yana.

Pengemis yang sebagian besar perempuan separuh baya tersebut mengaku hasil yang didapat untuk membeli beras dan susu anak.

"Suami saya tidak bekerja, jadi hasilnya kami belikan beras dan susu anak," ujarnya.

Pantauan wartawan ANTARA, sebagian besar pengemis yang berada di Vihara Bahtra Sasana merupakan wajah-wajah lama yang biasa mengemis di jalan-jalan raya, pasar dan masjid, sebagian lagi merupakan "pendatang baru" yang diperkirakan datang dari luar daerah dengan membawa balita.

Rata-rata mereka menerima satu amplop "angpao" berisi Rp2.000 hingga Rp10.000 dari warga usai sembahyang di vihara itu.

Rumah-rumah pejabat yang berasal dari etnis Tionghoa juga menjadi serbuan warga untuk bersilaturahmi.

"Pembagian angpao merupakan berbagi rezeki dengan sesama dan juga untuk mempererat jalinan silaturahmi," kata Rudi Chua yang merupakan anggota DPRD Kepri.
(ANT-HM/Z003/Btm2)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026