
Ketua DK Tolak Kenaikan Tarif Air Batam

Batam (ANTARA News) - Ketua Dewan Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan dan Karimun, Muhammad Sani, menolak kenaikan tarif air Adhya Tirta Batam yang berdasarkan pada keputusan Badan Pengusahaan (BP) Batam.
"Kalau itu memberatkan masyarakat, saya menolak," kata Sani usai pengukuhan Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Kepulauan Riau di Batam, Jumat.
Saat ini, kata dia, Wali Kota dan DPRD Batam sedang melakukan berbagai kajian dan pembahasan tentang tarif air yang naik tanpa koordinasi Pemda. Ia mengatakan harapan pembahasan yang dilakukan dapat membuahkan hasil yang baik untuk masyarakat.
"Sekarang dalam perjalanan dengan wali kota, mudah-mudahan ada hasilnya," kata dia.
Di tempat yang sama, anggota DPR RI daerah pemilihan Kepulauan Riau Harry Azhar Azis mengatakan kenaikan tarif air dapat mempengaruhi inflasi, karenanya pemerintah diharapkan lebih bijaksana.
Jika jadi naik, kata Harry, maka pemerintah harus memasukan kenaikan itu dalam komponen penetapan upah minimum kota, agar daya beli masyarakat tidak menurun.
Harry juga meminta ATB untuk membuat laporan keuangan secara transparan dan diumumkan melalui media, agar masyarakat bisa memahami penyebab kenaikan harga, apakah untuk investasi atau simpanan.
"Sebagai perusahaan yang memberi pelayanan kepada umum harus ada laporan akuntan publik, ada neraca dan transparan," kata Harry.
BP Batam menetapkan kenaikan tarif air sebesar 6,5 persen dalam Surat Keputusan Kepala BP Batam tertanggal 28 Juni 2011. Dan tarif air itu mulai naik Agustus untuk tagihan September.
Proses penetapan kenaikan tarif air tanpa melibatkan Wali Kota dan DPRD Batam, sehingga memicu protes berbagai kalangan.
DPRD Batam memanggil manajemen ATB dan BP Batam untuk menjelaskan kenaikan tarif air, namun hingga kini pembicaraan belum membuahkan kesepakatan. (ANT-YJN/B013/Btm2)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
