
300 Ton Beras Bulog Tertahan di Kapal

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Sebanyak 300 ton beras milik Bulog Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tertahan di atas kapal di Pelabuhan Sri Payung sejak tiga hari lalu, karena pelaksana bongkar muat, Kasimo, tidak memiliki alat untuk menurunkannya.
"Saya bekerja sama dengan Bulog Tanjungpinang dalam mengangkut beras. Saya sudah minta pelaksana bongkar muat barang PT Pelindo menurunkan beras tersebut, namun tidak dihiraukan," ujar Kasimo, di Pelabuhan Sri Payung Tanjungpinang, Selasa.
Beras itu telah beberapa hari dibawa dengan menggunakan kapal dari Dumai. Kapal itu juga sempat singgah di Batam untuk menurunkan beras milik Bulog seberat 1.000 ton.
Kasimo bersikeras pelaksana bongkar muat milik PT Pelindo mendahulukan penurunan beras Bulog tersebut, karena menyangkut kepentingan masyarakat. Namun pelaksana bongkar muat milik PT Pelindo tidak menyewakan alat bongkar barang kepada Kasimo, melainkan menurunkan ratusan sak semen milik pengusaha tertentu.
"Kalau tidak berkaitan dengan beras Bulog, saya tidak akan 'ngotot' seperti ini. Yang saya mau selamatkan ini beras milik negara," ujarnya.
Kepala Pos Pelabuhan Sri Payung Adpel Tanjungpinang, Sutoyo merasa tidak nyaman melihat Kasimo menggelar jumpa pers di pelabuhan tersebut. Sempat terjadi perdebatan serius antara Sutoyo dengan Kasimo.
"Pak Kasimo tidak dapat memberi komentar setengah-setengah. Harus jelaskan aturan mainnya kepada wartawan sehingga tidak salah persepsi," ujar Sutoyo.
Sutoyo pun meminta wartawan yang mewawancarai Kasimo mengerti kondisi di pelabuhan sehingga tidak terjadi salah paham. Pelaksana bongkar muat PT Pelindo memiliki hak mengatur usahanya sendiri, termasuk mendahulukan pengangkutan semen daripada beras Bulog.
"Seharusnya Kasimo sebagai pelaksana bongkar muat di pelabuhan memiliki alat bongkar muat sendiri sehingga tidak perlu menyewa alat bongkar muat kepada pelaksana bongkar muat lainnya," ujarnya.
Pelabuhan Sri Payung, kata dia, memiliki empat pelaksana bongkar muat. Selain pelaksana bongkar muat milik PT Pelindo, satu pelaksana bongkar muat lainnya memiliki alat untuk menurunkan barang dari atas kapal, namun saat ini alat tersebut masih rusak.
"Saya tidak membela pihak manapun, karena saya di posisi tengah. Namun jangan karena ulah satu orang, kondisi pelabuhan menjadi kurang nyaman," kata Sutoyo.
(KR-NP/S023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
