Logo Header Antaranews Kepri

145 Ton Ikan Impor Masuk Batam

Selasa, 21 Februari 2012 20:19 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Impor ikan untuk Kota Batam sejak awal 2012 hingga pertengahan Februari mencapai 145 ton, kata Kepala Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Batam, Ashari Syarif di Batam, Selasa.

Ia mengatakan, impor tersebut bertujuan untuk memenuhi kekurangan pasokan akibat angin utara yang mengakibatkan gelombang tinggi dan nelayan tidak lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan di Batam.

"Impor hanya dilakukan untuk mencukupi kebutuhan saat nelayan lokal tidak melaut karena cuaca buruk seperti yang terjadi pada akhir 2011 hingga awal 2012 ini," kata dia.

Ia mengatakan, ikan yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan Batam berasal dari Taiwan, Pakistan, Jepang, dan China.

"Saat ini hanya ada satu perusahaan yang diberi izin dari Kementerian Perikanan untuk melakukan impor. Itupun hanya dilakukan saat Batam kekurangan pasokan lokal akibat cuaca buruk," kata dia.

Pada 2011, kata dia, pemerintah pusat sempat melarang impor ikan untuk Batam, namun karena pada saat-saat tertentu nelayan lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi maka pemerintah pusat memberikan izin pada satu perusahaan untuk melakukan impor.

"Impor baru dilakukan sejak November 2011 hingga sekarang karena cuaca belum menentu. Tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan dan menstabilkan harga di pasar," kata dia.

Syarif mengatakan, akan terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan agar ikan impor yang masuk ke Batam benar-benar tidak mengandung bahan pengawet berbahaya dan penyakit yang bisa mencelakakan masyarakat.

"Sejauh ini yang kami temukan mengandung bahan berbahaya baru sekali. Yaitu 25 ton ikan gembung yang tiba di Batam 14 februari 2012 lalu. Ika itu akan direekspor kembali," kata Syarif.

Seorang nelayan di Telaga Punggur, Malik, Selasa mengatakan keberatan dengan kebijakan pemerintah memperbolehkan impor ikan ke Batam.

"Seharusnya kami diberdayakan dengan bantuan-bantuan peralatan agar bisa memenuhi kebutuhan lokal. Kebijakan impor secara perlahan akan mematikan nelayan," kata dia.

(KR-LNO/S006)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026