
Produk Kerupuk Atom Khas Natuna Terkendala Pemasaran

Natuna (ANTARA Kepri) - Pelaku home industri khas Natuna, kerupuk atom terkendala pada pemasaran, padahal produk dari ikan tongkol ini merupakan produk andalan kaum ibu di Kabupaten Natuna Kepulauan Riau.
"Kami membuat kerupuk atom dengan bahan utama daging ikan tongkol," kata Dursina (50) warga Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Senin di Sabang Mawang, Natuna.
Hanya saja, kata Dursina, kelompoknya mengalami kendala untuk memasarkan produk yang berasal dari bahan utama primadona perikanan Natuna, yakni ikan tongkol.
"Padahal, produk industri rumahan ini menjadi produk andalan kaum ibu-ibu di Natuna," katanya.
Dalam sehari, Dursina bersama kelompoknya yang berjumlah 12 orang bisa menghasilkan 34 bungkus kerupuk atom yang dijual Rp10.000,- per bungkus.
"Andai saja ada pihak-pihak terkait yang turut membantu kami untuk memasarkan produk kami ini, kami sangat berterima kasih," kata Ketua Kelompok Cahaya Mutiara ini.
Dengan demikian, kata dia, akan sangat membantu perekonomian masyarakat terutama bagi kaum ibu dalam membantu perekonomian keluarga.
Senada dengan Dursina, istri Kades Sabang Mawang Barat, Suhaya (33) membenarkan bahwa pemasaran menjadi kendala yang besar bagi pihaknya.
"Ibu-ibu di sini sangat bersemangat untuk memajukan produk industri rumahan mereka dan sudah pula memiliki nama untuk label produknya," katanya.
Dia berharap, semangat ini bisa menjadi perhatian pihak-pihak terkait utnuk membantu dalam hal pemasaran.
Selama ini, kerupuk atom hanya dipasarkan ke Ranai dan dijual melalui kapal-kapal yang masuk ke Pulau Tiga.
"Baru sebatas Ranai saja, itupun hanya ke kedai-kedai kecil belum ke swalayan-swalayan," katanya.
Padahal, menurut dia, produk kerupuk atom ini merupakan produk andalan kaum ibu di Natuna.
"Bukan hanya di Kecamatan Pulau Tiga, tapi hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Natuna, apa salahnya kerupuk atom ini dikelola dan dikemnbangkan dalam hal pemasaran," katanya. (KR-RST/S023)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
