
"Emas Coklat" Masihkah Warnai Kemakmuran Natuna?

SEMERBAK harum cengkeh, rempah yang dijuluki 'emas coklat' tercium begitu menginjakkan kaki di sebuah pulau lepas bernama Pulau Midai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Disini pula Bung Hatta pernah berkunjung pada tahun 1949 melihat Ahmadi & CO, sebuah 'koperasi pertama' yang dibentuk pada tahun 1906.
Kalaulah masih masa penjajahan Belanda, Pulau Midai tentu menjadi target dari penghasil rempah-rempah tanah Hindia Belanda nama Indonesia kala itu. Akan menjadi 'berkah' tiada terkira bagi negeri yang menjuluki pribumi dengan sebutan inlander itu.
Sebab rempah yang bernama cengkeh atau nama latin Eugenia Aromaticum tumbuh subur di pulau yang berada di laut Natuna dan dikelilingi pula oleh Laut Cina Selatan, sebuah jalur pelayaran dan perdagangan internasional dari dahulu kala hingga kini.
Sebab itulah lambang bertuliskan 'Laut Sakti Rantau Bertuah" dihiasi daun cengkeh dua belas helai berwarna hijau daun dan sepuluh buah bunga cengkeh berwarna coklat muda melambangkan tanggal dan bulan terbentuknya Kabupaten perbatasan NKRI diujung utara Indonesia.
Daun dan bunga Cengkeh laksana padi dan kapas yang tertanam di benak sejak masuk sekolah dasar akan makna Pancasila, terpatri kuat dalam ingatan pertanda kemakmuran.
"Masyarakat Pulau Midai tak disangsikan mendapat berkah kemakmuran tiada terkira dari panen cengkeh," ujar Suharto (45), lelaki yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya ini untuk mencoba mengais rezeki di tanah daratan.
Dulu, kenang lelaki yang sontak mengingatkan akan nama mantan Presiden Republik Indonesia (RI) yang bertahta selama 32 tahun ini mengungkapkan kemakmuran masyarakat Midai menikmati kesenangan tiada bandingan. "Mencuci tangan saja dengan bir," ibaratnya.
Ungkapan Soeharto sungguh bukan hanya sekedar kiasan saja. Ia berkisah, anak-anak Midai yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di tanah Jawa kala itu, kalau mau bisa saja tinggal di hotel.
"Boleh tanyakan dengan orang-orang tua di Midai," tegasnya sambil mencoba menyakinkan.
Pembuktian kenapa tidak. ANTARA mencoba menyusuri perjalanan 'emas coklat' hingga ke Pulau Midai yang bertepatan pula dengan musim panen.
Tak jauh, Pulau Midai dapat ditempuh dalam waktu empat hingga enam jam dari Pelabuhan Selat Lampa, sebuah pelabuhan yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Riau.
Kala itu sebelum pemekaran menjadi Provinsi Kepri. Dua kapal siap menjadi pilihan, yakni dengan menaiki kapal Bukit Raya atau kapal perintis Sabuk Nusantara 30 melalui Pelabuhan Penagi.
Namun jika 'menumpang' ferry Pemerintah Daerah (Pemda) Natuna yang selalu digunakan oleh bupati untuk mengunjungi pulau-pulau dapat menghemat waktu hingga 100 persen, yakni sekitar tiga jam perjalanan.
"Jika ada ferry Pemda Natuna, terkadang kami turut juga menaikinya, bangga juga bisa satu ferry dengan Pak Bupati, Ilyas Sabli, selain itu bisa juga sampai lebih cepat ke Midai," ungkap Soleh (32) warga Ranai yang sengaja datang ke Pulau Midai untuk mencari upah sebagai pemanjat pohon cengkeh, beberapa waktu lalu.
Para pemanjat pohon cengkeh ini akan bertahan di pulau kecil itu dengan hanya keliling 18 km2 tersebut sepanjang musim cengkeh. "Tahun ini sebenarnya bukan musim panen besar, tapi musim panen kecil," sebutnya sambil merinci ia mengambil upah memanjat pohon cengkeh untuk memetik buah cengkeh sebesar Rp6.000/kg.
Musim panen besar datang sekali dalam tiga tahun, seperti dituturkan Edra (42) petani cengkeh dengan logat Melayu Kepulauan yang sangat kental. "Tahun lalu, 2011," ujarnya. Sayang, pada saat cengkeh melimpah pada musim panen besar, hargapun sempat jatuh.
Namun, musim itu tidak berlaku bagi Edra. "Sebaliknya, pohon cengkeh kebun kami malah tidak berbuah," ujarnya. Sementara di awal tahun 2012, sebanyak 2000 batang pohon cengkeh milik Edra mulai berputik. "Tidak semua pohon berbuah," akunya sambil bersedia membawa ANTARA untuk turut memanen pohon cengkehnya di gunung.
Gunung di Pulau Midai dipenuhi pohon cengkeh. Sebenarnya sebutan gunung hanya sebuah bukit dengan beragam nama. "Banyak gunung di Midai," sebutnya tersenyum seakan menghibur langkah mendaki yang sedikit menguras tenaga. Namun, suasana sejuk begitu ramah menyambut seakan mengusir suhu tubuh yang kian meningkat dan mengucurkan peluh.
"Banyak tamu yan berkunjung ke Midai, mereka selalu menyempatkan untuk ke gunung, karena kesejukan di gunung apalagi ada aroma cengkeh jika bertepatan musim panen seperti saat ini," kicaunya tak henti. Sejenak, petani yang berharap panen kali ini bisa meraup pundi-pundi rupiah berdiri di satu pohon cengkeh yang berumur sekitar 80 tahun lebih.
"Coba ibu lihat, ada semacam lumut yang hidup di batang cengkeh ini. Biasanya kami kikis untuk membersihkannya," jelas Edra yang menduga lumut inilah yang menjadi 'penyakit' sehingga menyebabkan hasil panennya mengalami penurunan setiap tahunnya.
Hal senada diungkapkan pula oleh Ibrahim (45), Kecamatan Midai yang merupakan daerah penghasil cengkeh terbesar di Kabupaten Natuna."Hasil panen kami mengalami penurun setiap tahunnya, ini disebabkan kami tidak berani dalam memberikan pupuk," keluhnya.
Selanjutnya, ia mengungkapkan petani kebanyakan takut untuk memberikan pupuk. "Mereka takut tanamannya mati karena pemupukan yang tidak diketahui takarannya," jelasnya.
Karena itu, petani cengkeh mohon dinas terkait memberikan perhatian dalam bentuk penyuluhan. "Kami takut tanaman kami mati, karena tidak mengetahui takaran yang pas dalam memberikan pupuk," paparnya.
Ibrahim yang memiliki kebun cengkeh 30 batang dengan jarak delapan meter setiap batangnya dengan hasil panen 300 kg/tahun."Itupun sekarang hasilnya sudah menurun, bahkan kadang dalam setahun beberapa batang tidak berbuah," sebutnya.
Dia mengatakan, selain produksinya menurun, tetapi juga daun pohon cengkeh tampak layu, untuk itu hendaknya dinas terkait memberikan perhatian."Inilah juga menjadi persoalan bagi kami," katanya sambil meminta dinas terkait segera turun ke Kecamatan Midai.
Keluhan petani cengkeh di Kecamatan Midai mendapat tanggapan serius dari Bupati Natuna, Ilyas Sabli dengan melakukan upaya pelatihan bagi penyuluh perkebunan."Kalau perlu, ke depan kita akan anggarkan pelatihan bagi penyuluh," ujarnya menanggapi keluhan petani cengkeh di Kecamatan Midai terhadap hasil panen yang semakin menurun.
Diakui Ilyas, selama ini memang belum pernah dilakukan penyuluhan terhadap petani, sehingga wajar jika petani tidak tahu menahu tentang takaran yang pas pemberian bibit.
"Sementara petani cengkeh di Midai merupakan petani alami, sehingga tanpa pengetahuan yang benar menjadi takut tanamannya mati karena pemberian pupuk yang tidak pas takarannya," jelasnya.
Sementara itu, Kabid Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Natuna, Windra mengatakan agar petani membuat surat resmi ke dinasnya melalui lurah ataupun pihak kecamatan."Jadi, dengan permintaan resmi seperti itu menjadi dasar kami turun untuk melihat langsung kondisi di lapangan," ujarnya.
Karena, menurutnya, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dinasnya belum ada di semua kecamatan se-Natuna.
Ia menegaskan, kondisi ini menjadi kendala bagi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Natuna.
"Apalagi, geografis kita merupakan daerah kepulauan, saat dinas yang seharusnya hanya dua hari bisa selesai, bisa memakan waktu satu minggu," ujarnya.
Hal ini, lanjutnya karena terkendala pula dengan jadual kapal atau alat transportasi ke pulau-pulau tersebut.
Berpijak dengan berbagai faktor yang menjadi kendala, masihkah emas coklat menjadi primadona untuk beberapa belas tahun ke depan? Edra menggeleng. "Mungkin beralih ke petani karet," ucapnya singkat sambil terus berjalan menanjak. (KR-RST/M009)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
