
Alamak! Kabel Jembatan I Barelang Dirusak Warga

Batam (ANTARA Kepri) - Sekitar 40 persen dari seluruh kabel baja tegangan tinggi Jembatan I Barelang Batam dirusak warga.
"Saya perkirakan sekarang sudah 40 persen kabel yang rusak," kata dia.
Ia mengatakan bila terus dilakukan maka dikhawatirkan membuat ketahanan jembatan semakin berkurang hingga tidak mampu menanggung beban dan rubuh.
Kabel-kabel besar yang menyangga jembatan dirusak menggunakan silet oleh warga hingga menganga. Lalu, kata Istono, warga menaruh sampah di dalam tulang kabel yang menganga.
"Kabel diduduki lalu dirusak, ada bekas silet," kata dia.
Menurut Istono, pengrusakan itu akan menyumbat drainase air hujan dan mengendap di tiang kabel jembatan. "Nantinya akan berkarat dan keropos," kata dia.
Bila sudah begitu daya tahan jembatan akan berkurang dan rawan rubuh.
Istono meminta warga untuk menjaga kelestarian aset yang ada.
"Itu uangnya masyarakat semua, maka harus ikut dijaga, jangan dirusak," kata dia.
BP Batam berencana memperbaiki kabel-kabel yang rusak di Jembatan I Barelang agar tidak memperparah kondisi jembatan.
"Kami berencana cepat memperbaiki. Tahun anggaran ini mudah-mudahan," kata dia.
Ditanya mengenai ketahanan jembatan, menurut dia, jembatan yang dirancang BJ Habibie itu memiliki daya yang sangat baik.
Jembatan, kata dia, bisa mengangkut banyak kendaraan dengan bebang besar. Bahkan, bila seluruh badan jalan dipenuhi kendaraan, tetap bisa berdiri kokoh.
"Kalau hitungan teknis, jembatan ini sangat kuat, tapi kita tidak tahu kalau rencana Tuhan," kata dia.
Menurut dia, jika tidak dirusak, Jembatan I Barelang bisa bertahan lama, bahkan
Jembatan I Barelang sering disebut "Jembatan San Fransisco-nya Batam". Jembatan itu juga menjadi ikon kota industri.
"Jembatan itu juga menjadi tempat wisata lokal, dan itu tidak masalah," kata dia.
Rencananya, kata dia, BP Batam akan meninggikan pagar jembatan agar pengunjung tidak ke luar area aman.(Y011/E001)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
