Logo Header Antaranews Kepri

Harga Ikan di Batam Naik 30 Persen

Rabu, 9 Januari 2013 21:57 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Harga ikan segar di Kota Batam Kepulauan Riau meningkat hingga 30 persen akibat selama Musim Angin Utara.

"Sejak angin utara bulan ini, harga ikan naik drastis," kata pedagang ikan Pasar Legenda, Hafiz, Rabu.

Angin utara membuat nelayan enggan melaut karena gelombang tinggi hingga empat meter.

Harga ikan yang paling tinggi lonjakannya adalah ikan tongkol merah dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per kg.

Ikan tongkol yang naik dari Rp15.000 per kg menjadi Rp20.000 per kg. Lalu, ikan benggol naik dari Rp18.000 menjadi Rp22.000 per kg, dan ikan mata besar dari Rp20.000 menjadi Rp22.000 per kg.

Lalu ikan selar naik dari Rp22.000 menjadi Rp25.000 per kg, bandeng dari Rp22.000 menjadi Rp28.000.

Ia mengatakan sejak awal tahun pasokan ikan berkurang hingga memicu kenaikan harga.

Sebelum Musim Angin Utara, kata dia, pasokan ikan segar ke kedainya mencapai 80 kg per hari, namun kini hanya 30 kg per hari.

Menurut dia, kenaikan harga ikan berujung pada daya beli masyarakat yang menurun. Penjualan ikan pun merosot.

"Dengan harga setinggi itu, penjualan merosot," kata dia.

Sementara itu, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia mencatat produksi ikan tangkap di Kota Batam menurun hingga 70 persen karena nelayan tradisional enggan melaut pada Musim Angin Utara.

"Produksi ikan menurun drastis, bahkan bisa 60 sampai 70 persen," kata Sekretaris HNSI Firman.

Ia mengatakan jika biasanya nelayan tradisional bisa menangkap 20 kg ikan per hari, maka saat Musim Angin Utara hanya bisa mengail enam hingga delapan kg per hari.

Ia mengatakan karena gelombang laut tinggi, maka nelayan, terutama tradisional, enggan melaut karena khawatir.

Saat ini nelayan tradisional hanya berharap sisa-sisa makanan laut di pinggir pantai.

Kelong-kelong yang dibangun nelayan di sekitar pantai pun rusak akibat hantaman ombak, kata dia melanjutkan.

"Pendapatan dari kelong juga menurun drastis. Padahal, sebagian nelayan mengharapkan dari bubu, kelong. Itu pancingan mereka," kata dia.

Selain terkena hantaman ombak, kelong juga dirusak rengkam, sejenis tumbuhan laut yang naik dan lengket di badan kelong.

Rengkam terbawa ombak dan menempel di bubu dan kelong sehingga merusak alat tangkap nelayan.(*)

Editor: Dedi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026